Sumber: Yahoo News | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Dengan Kuba kini semakin terisolasi dan blokade minyak Venezuela oleh AS memutus sumber kehidupan ekonominya, kalangan garis keras anti-Havana di pemerintahan AS melihat peluang untuk melemahkan musuh terdekat Amerika.
Namun, para pakar memperkirakan AS akan mengambil pendekatan “menunggu dan melihat”. Kuba sudah dilanda pemadaman listrik berkepanjangan, kelangkaan pangan, krisis layanan kesehatan, serta gelombang migrasi besar-besaran. Sejak 2021, sekitar 10% populasi Kuba, sekitar satu juta orang, telah meninggalkan negara itu.
Pertanyaannya, menurut mantan pejabat AS Ricardo Zúñiga, adalah “seberapa buruk kondisi bisa memburuk” sebelum rakyat Kuba memberontak.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sendiri menyebut penangkapan Maduro sebagai “terorisme negara” dan menegaskan kesetiaan Havana pada Caracas.
“Keputusan kami satu dan tak tergoyahkan: Tanah Air atau Mati,” tegas pemerintah Kuba dalam pernyataan resminya.
Tonton: Blak-Blakan Donald Trump Inginkan Akses Penuh Minyak Venezuela
Kesimpulan
Penangkapan Nicolás Maduro berpotensi menjadi titik balik geopolitik yang jauh melampaui Venezuela, dengan Kuba berada di posisi paling rentan akibat ketergantungannya pada pasokan minyak Caracas. Pernyataan Trump dan pejabat AS menunjukkan keyakinan bahwa tekanan ekonomi ekstrem dapat memicu keruntuhan rezim Kuba tanpa intervensi militer langsung. Namun, asumsi efek domino ini tidak sepenuhnya pasti, mengingat kuatnya kontrol politik di Kuba, minimnya mitra reformasi bagi AS, serta sentimen anti-intervensi yang mengakar di masyarakat. Dengan krisis ekonomi dan kemanusiaan yang memburuk, masa depan Kuba kini berada di persimpangan antara kolaps internal atau bertahan melalui represi dan solidaritas politik.













