Sumber: USA Today | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Dengan Piala Dunia 2026 yang tinggal lima bulan lagi, ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland kembali memunculkan bayang-bayang boikot dari Eropa.
Untuk saat ini, wacana UEFA absen dari Piala Dunia masih sebatas teori. Belum ada satu pun negara Eropa yang secara resmi menyatakan akan memboikot turnamen tersebut jika Trump benar-benar menepati janjinya mencaplok Greenland, baik melalui negosiasi maupun dengan kekuatan militer. Meski begitu, isu ini kian relevan dan mulai mendapat perhatian serius.
Berikut sejumlah pertanyaan besar seputar kemungkinan boikot Piala Dunia oleh negara-negara Eropa.
Mengapa Eropa bisa memboikot Piala Dunia?
Mengutip USA Today, ambisi Trump untuk menguasai Greenland telah memperburuk hubungan yang sejak awal sudah tegang antara Amerika Serikat dan Eropa.
Greenland merupakan wilayah otonom yang menjadi bagian dari Denmark, salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Amerika Serikat juga merupakan anggota NATO, yang selama ini menjadi pilar utama menjaga perdamaian di antara negara-negara Barat sejak Perang Dunia II. Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara menyebutkan bahwa serangan bersenjata terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Belakangan, Trump semakin terang-terangan menyatakan keinginannya menjadikan Greenland bagian dari Amerika Serikat. Dalam unggahan di Truth Social akhir pekan lalu, Trump menyebut dirinya tidak lagi harus “berpikir semata-mata soal perdamaian” dalam upaya menguasai pulau terbesar di dunia itu.
Baca Juga: Trump Ditelepon Perusahaan Kartu Kredit, Tetap Ngotot Batasi Bunga 10%
Trump juga mengancam akan menjatuhkan tarif hukuman terhadap negara-negara Eropa yang menentang tuntutannya atas Greenland, sebuah langkah yang langsung memicu kekhawatiran di berbagai penjuru Eropa.
Baik Greenland maupun Denmark telah berulang kali menyatakan penolakan terhadap keinginan Trump. Namun, belum jelas seberapa besar tekanan yang mampu mereka tahan.
Di sinilah opsi boikot Piala Dunia mulai dibicarakan. Trump menjadi figur sentral menjelang turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Jika UEFA benar-benar bersatu dan menolak berpartisipasi, hal itu akan mengacaukan seluruh penyelenggaraan Piala Dunia serta menjadi pukulan telak dan memalukan bagi Trump maupun FIFA.
Apalagi, belum jelas bagaimana turnamen bisa berjalan tanpa keikutsertaan UEFA, mengingat tim-tim Eropa dijadwalkan mengisi 16 dari total 48 slot peserta Piala Dunia.
Apa saja yang sudah dikatakan soal boikot Piala Dunia?
Dalam beberapa pekan terakhir, para pemimpin Eropa semakin sering ditanya soal kemungkinan boikot Piala Dunia. Sebagian besar memilih bersikap hati-hati, tanpa sepenuhnya menutup opsi tersebut.
Jürgen Hardt, anggota parlemen Jerman sekaligus juru bicara Partai Uni Demokrat Kristen (CDU) pimpinan Kanselir Friedrich Merz, mengatakan kepada BILD bahwa boikot bisa digunakan sebagai langkah terakhir untuk membuat Trump berpikir masuk akal terkait isu Greenland.
Baca Juga: Donald Trump: Calon Ketua The Fed Tinggal Satu di Kepala Saya
Presiden klub St. Pauli, Oke Göttlich, yang juga duduk di jajaran eksekutif Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) dan Liga Sepak Bola Jerman (DFL), ikut mengangkat wacana boikot lewat unggahan di LinkedIn pekan ini.
“Pertanyaannya memang pantas diajukan: apakah orang Eropa seharusnya ikut serta dalam sebuah kompetisi di negara yang secara tidak langsung, dan mungkin segera secara langsung, menyerang Eropa?” tulis Göttlich.
Di Inggris, anggota parlemen Simon Hoare dan Kate Osborne mengatakan kepada Metro bahwa boikot layak dipertimbangkan.
“Kita harus mengirimkan pesan sebanyak mungkin kepada pemerintahan Trump dan rakyat Amerika bahwa ada garis merah yang tidak boleh dilanggar terkait kedaulatan dan urusan internasional,” kata Hoare.
“Jika itu berarti tidak pergi ke Piala Dunia, maka kita memang tidak seharusnya pergi.”
Osborne menambahkan, “Amerika Serikat seharusnya tidak boleh ikut serta di Piala Dunia, apalagi menjadi tuan rumah. Jadi ya, saya mendukung seruan boikot.”
Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, bersikap lebih hati-hati, namun juga tidak sepenuhnya menutup kemungkinan boikot.
“Pada saat ini, tidak ada keinginan dari kementerian untuk memboikot kompetisi besar yang sangat dinantikan ini,” ujar Ferrari kepada wartawan pada Selasa. “Namun demikian, saya tidak ingin mendahului apa yang bisa terjadi.”
Pernahkah ada boikot Piala Dunia sebelumnya?
Boikot Piala Dunia bukanlah hal baru, meski sudah lebih dari setengah abad tidak terjadi.
Sejak edisi pertama pada 1930, tercatat sembilan negara dan bahkan satu benua, pernah memboikot Piala Dunia.
Boikot pertama dilakukan Uruguay pada 1934. Juara Piala Dunia 1930 itu menolak datang ke Italia untuk mempertahankan gelarnya.
Uruguay kembali memboikot Piala Dunia 1938, kali ini bersama Argentina, dengan menolak bertanding di Prancis.
India mengundurkan diri pada 1950, sementara pada 1958 Turki, Indonesia, Mesir, dan Sudan menarik diri dari kualifikasi.
Tonton: Rusia Senang AS dan NATO Ribut karena Greenland, Ledek Barat: Aliansi Berakhir!
Pada 1966, seluruh negara Afrika memboikot Piala Dunia sebagai bentuk protes terhadap pembagian slot yang dianggap tidak adil. Dari 16 tiket Piala Dunia saat itu, FIFA hanya menyediakan satu tempat yang harus diperebutkan bersama oleh Afrika, Asia, dan Oseania.
Boikot terakhir terjadi pada 1974, ketika Uni Soviet menolak menghadapi Chile dalam laga playoff antara runner-up kualifikasi Eropa dan Amerika Selatan.













