Sumber: USA Today | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Osborne menambahkan, “Amerika Serikat seharusnya tidak boleh ikut serta di Piala Dunia, apalagi menjadi tuan rumah. Jadi ya, saya mendukung seruan boikot.”
Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, bersikap lebih hati-hati, namun juga tidak sepenuhnya menutup kemungkinan boikot.
“Pada saat ini, tidak ada keinginan dari kementerian untuk memboikot kompetisi besar yang sangat dinantikan ini,” ujar Ferrari kepada wartawan pada Selasa. “Namun demikian, saya tidak ingin mendahului apa yang bisa terjadi.”
Pernahkah ada boikot Piala Dunia sebelumnya?
Boikot Piala Dunia bukanlah hal baru, meski sudah lebih dari setengah abad tidak terjadi.
Sejak edisi pertama pada 1930, tercatat sembilan negara dan bahkan satu benua, pernah memboikot Piala Dunia.
Boikot pertama dilakukan Uruguay pada 1934. Juara Piala Dunia 1930 itu menolak datang ke Italia untuk mempertahankan gelarnya.
Uruguay kembali memboikot Piala Dunia 1938, kali ini bersama Argentina, dengan menolak bertanding di Prancis.
India mengundurkan diri pada 1950, sementara pada 1958 Turki, Indonesia, Mesir, dan Sudan menarik diri dari kualifikasi.
Tonton: Rusia Senang AS dan NATO Ribut karena Greenland, Ledek Barat: Aliansi Berakhir!
Pada 1966, seluruh negara Afrika memboikot Piala Dunia sebagai bentuk protes terhadap pembagian slot yang dianggap tidak adil. Dari 16 tiket Piala Dunia saat itu, FIFA hanya menyediakan satu tempat yang harus diperebutkan bersama oleh Afrika, Asia, dan Oseania.
Boikot terakhir terjadi pada 1974, ketika Uni Soviet menolak menghadapi Chile dalam laga playoff antara runner-up kualifikasi Eropa dan Amerika Selatan.













