Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - ABU DHABI. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio memulai lawatan tiga hari ke kawasan Teluk dengan menggelar pembicaraan bersama para pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Rabu (24/6/2026).
Kunjungan ini menjadi misi diplomatik tingkat tinggi pertamanya sejak tercapainya kesepakatan perdamaian antara ASt, Israel, dan Iran pekan lalu.
Lawatan Rubio berlangsung di tengah meningkatnya keraguan negara-negara Teluk terhadap isi kesepakatan yang didorong Presiden Donald Trump.
Sejumlah sekutu Washington di kawasan menilai perjanjian tersebut terlalu menguntungkan Iran, negara yang sebelumnya melancarkan serangan terhadap mereka selama konflik berlangsung.
Dalam kunjungannya ke Abu Dhabi, Rubio menghadiri jamuan makan siang kerja bersama Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Baca Juga: Menlu Rubio: AS Tidak Akan Menukar Keringanan Sanksi dengan Pembukaan Selat Hormuz
Pertemuan itu juga dihadiri Penasihat Keamanan Nasional Sheikh Tahnoun bin Zayed Al Nahyan dan Menteri Luar Negeri Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan.
Saat ditanya apakah dirinya akan membahas keresahan negara-negara sekutu terkait kesepakatan tersebut, Rubio menegaskan isu itu akan menjadi bagian penting dalam pembicaraan.
Menurutnya, diskusi juga akan mencakup berbagai persoalan lain yang belum tercantum dalam nota kesepahaman yang telah ditandatangani.
Kunjungan ini menjadi penting karena dalam beberapa pekan terakhir Rubio relatif tidak terlibat dalam perundingan terkait Iran.
Peran negosiasi justru lebih banyak dipegang oleh Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin pembicaraan dengan pihak Iran di Swiss pada akhir pekan lalu.
Selain UEA, Rubio juga dijadwalkan mengunjungi Kuwait. Kedua negara tersebut menjadi tuan rumah pangkalan militer strategis AS dan sama-sama terdampak serangan rudal Iran selama perang, yang menimbulkan korban sipil.
UEA menghadapi tekanan ekonomi yang cukup besar akibat konflik tersebut. Perang memicu keluarnya sebagian pekerja ekspatriat yang selama ini menjadi penopang utama sektor ekonomi nonmigas negara itu.
Baca Juga: Rubio Mengklaim Ada Sejumlah Kemajuan Dalam Perundingan AS dengan Iran
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Abu Dhabi yang selama ini mengandalkan citra sebagai pusat keuangan global yang stabil di kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran negara-negara Teluk juga diperparah oleh laporan mengenai aktivitas sel rahasia yang dibentuk Iran di Irak untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara Teluk, termasuk Kuwait dan UEA.
Dalam periode sekitar satu bulan pada April hingga Mei, kelompok tersebut disebut melakukan sedikitnya tujuh serangan drone terhadap sejumlah lokasi di Kuwait, UEA, dan Arab Saudi.
Pernyataan Rubio selama kunjungan ini akan menjadi sorotan, terutama karena ia selama ini dikenal sebagai politikus yang bersikap keras terhadap Iran. Banyak kalangan Partai Republik di Kongres menilai kesepakatan yang dicapai justru terlalu lunak terhadap Teheran.
Tantangan Rubio semakin besar karena ia harus mempertahankan kesepakatan sementara yang didukung penuh oleh Trump, sekaligus meyakinkan mitra-mitra Teluk yang masih memandang perjanjian tersebut dengan hati-hati.
Pekan lalu, kedua pihak menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin yang menjadi dasar penghentian perang. Kesepakatan sementara itu membuka jalan bagi perundingan lanjutan selama 60 hari untuk membahas isu-isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.
Baca Juga: Selat Hormuz Jadi Zona Bahaya, Rubio: 10 Pelaut Sipil Tewas, AS Perketat Blokade
Badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan melakukan inspeksi di Iran dalam waktu dekat sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut. Namun, mekanisme pelaksanaannya masih dalam tahap pembahasan.
Salah satu isu utama dalam negosiasi adalah masa depan cadangan uranium Iran yang telah diperkaya hingga tingkat 60%, hanya selangkah lagi dari kadar sekitar 90% yang dibutuhkan untuk senjata nuklir. Iran menegaskan program nuklirnya bertujuan damai.
Meski para pemimpin Teluk sejak awal mendorong penyelesaian damai selama konflik empat bulan terakhir, banyak di antara mereka mengaku terkejut dan kecewa dengan sejumlah ketentuan dalam kesepakatan.
Perhatian terbesar tertuju pada rencana pembentukan dana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar untuk Iran. Sekutu-sekutu AS di kawasan khawatir dana tersebut dapat dimanfaatkan Teheran untuk membangun kembali kemampuan militernya.
Selain itu, kesepakatan tersebut tidak mencakup pembahasan mengenai kemampuan rudal balistik Iran, yang menjadi salah satu kekhawatiran utama negara-negara Teluk setelah mereka menjadi sasaran serangan rudal dan drone selama perang berlangsung.
Di sisi lain, Iran menyoroti dukungan logistik yang diberikan sejumlah negara Teluk kepada Washington selama konflik, termasuk keberadaan pangkalan militer AS yang memainkan peran penting dalam operasi perang.














