Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen baja terbesar Jepang, Nippon Steel, menaikkan proyeksi laba bersih untuk tahun buku berjalan sebesar 32%, didorong oleh kinerja yang lebih kuat dari anak usahanya di Amerika Serikat, U.S. Steel, seiring membaiknya pasar baja Negeri Paman Sam.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Selasa (5/8), Nippon Steel memperkirakan laba bersih tahun buku penuh mencapai 290 miliar yen atau sekitar US$1,84 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya.
Perusahaan juga membukukan laba bersih sebesar 75,30 miliar yen pada kuartal pertama periode April-Juni 2026. Capaian ini berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika Nippon Steel mencatat rugi bersih 195,83 miliar yen akibat kerugian satu kali (one-off loss) yang besar dari penjualan kepemilikannya di perusahaan patungan AM/NS Calvert.
Direktur Keuangan Nippon Steel, Takahiko Iwai, mengatakan bahwa kontribusi U.S. Steel menjadi faktor utama yang mengangkat kinerja grup.
"U.S. Steel menjadi pendorong utama laba grup kami," ujar Takahiko Iwai dalam konferensi pers.
Ia menambahkan, langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas produk serta efisiensi operasional di U.S. Steel setelah proses akuisisi juga turut mendorong kenaikan laba unit usaha tersebut.
Baca Juga: Korea Selatan Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, 19 Orang Meninggal
Proyeksi Laba U.S. Steel Meningkat
Nippon Steel turut menaikkan proyeksi laba operasional dasar (underlying business profit) U.S. Steel untuk tahun buku yang berakhir Maret 2027 menjadi setidaknya 180 miliar yen, lebih tinggi dibandingkan estimasi pada Mei lalu yang sebesar setidaknya 100 miliar yen.
Perusahaan juga merevisi asumsi harga pasar hot-rolled coil (HRC) di Amerika Serikat. Kini, Nippon Steel memperkirakan harga baja canai panas berada di kisaran US$1.000 hingga US$1.100 per short ton, naik US$100 dibandingkan asumsi sebelumnya, seiring kenaikan harga baja dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Iwai, pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar Amerika Serikat serta kenaikan biaya bahan baku turut meningkatkan keuntungan dari valuasi persediaan, sehingga ikut mendukung revisi naik proyeksi laba perusahaan.
"Peningkatan keuntungan dari valuasi persediaan yang didorong oleh pelemahan yen terhadap dolar AS dan naiknya biaya bahan baku juga berkontribusi terhadap revisi naik proyeksi laba," kata Iwai.
Konflik Timur Tengah Tekan Kinerja
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang membebani kinerja perusahaan.
Iwai mengungkapkan bahwa konflik tersebut telah mengurangi laba kuartal pertama sebesar 25 miliar yen. Untuk sepanjang tahun buku, dampak negatifnya diperkirakan mencapai 60 miliar yen.
"Konflik di Timur Tengah mengurangi laba kuartal pertama sebesar 25 miliar yen dan diperkirakan akan memberikan dampak negatif sebesar 60 miliar yen terhadap laba sepanjang tahun buku," ujarnya.
Baca Juga: Trump Kritik ExxonMobil dan Chevron, Minta Raksasa Minyak Turunkan Harga BBM
Operasi Domestik Masih Lesu
Meski bisnis internasional menunjukkan perbaikan, laba dari operasi domestik Nippon Steel masih bergerak stagnan.
Untuk menjaga profitabilitas, perusahaan berencana meneruskan kenaikan biaya bahan baku dan energi kepada pelanggan melalui penyesuaian harga produk.
Selain itu, Nippon Steel juga melihat peluang perbaikan harga baja di pasar domestik setelah pemerintah Jepang mulai menerapkan kebijakan antidumping terhadap produk baja impor.
"Pemerintah Jepang akhirnya telah memberlakukan langkah-langkah antidumping. Jika kebijakan ini mampu menekan masuknya baja murah dari luar negeri, maka harga baja di pasar domestik berpotensi menjadi lebih kuat," tutur Iwai.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu industri baja Jepang menghadapi tekanan dari impor baja berharga murah sekaligus memperbaiki margin keuntungan produsen dalam negeri.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
