kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Nvidia, Microsoft & Amazon Dikabarkan Berinvestasi di OpenAI, Total US$ 60 Miliar


Kamis, 29 Januari 2026 / 10:35 WIB
Nvidia, Microsoft & Amazon Dikabarkan Berinvestasi di OpenAI, Total US$ 60 Miliar
ILUSTRASI. Tiga raksasa teknologi, Nvidia, Amazon, dan Microsoft, dikabarkan siap kucurkan dana investasi hingga US$ 60 miliar ke OpenAI.


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Nvidia, Amazon, dan Microsoft dikabarkan sedang dalam tahap pembicaraan untuk berinvestasi senilai US$ 60 miliar di OpenAI. Hal tersebut dilaporkan The Information, seperti dikutip dari Reuters.

Nvidia, investor yang sudah chip-nya sudah mendukung model AI OpenAI, sedang dalam pembicaraan untuk berinvestasi hingga US$ 30 miliar, kata The Information, mengutip seseorang yang mengetahui situasi tersebut. 

Di sisi lain, Microsoft, yang merupakan pendukung lama dengan hak eksklusif untuk menjual model OpenAI kepada pelanggan cloud, sedang dalam pembicaraan untuk berinvestasi kurang dari US$ 10 miliar ke OpenAI. 

Baca Juga: Inggris–China Buka Babak Baru, Starmer Bertatap Muka dengan Xi Jinping

Sementara itu, Amazon, yang akan menjadi investor baru, juga sedang dalam pembicaraan untuk berinvestasi jauh lebih dari US$ 10 miliar, bahkan berpotensi menggelontorkan dana lebih dari US$ 20 miliar, tambah laporan tersebut.

OpenAI hampir menerima "term sheet," atau komitmen investasi, dari perusahaan-perusahaan tersebut, kata The Information, mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Nvidia, Amazon, Microsoft, dan OpenAI tidak dapat segera menanggapi permintaan komentar Reuters di luar jam kerja reguler.

Reuters tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut. 


Tag


TERBARU

[X]
×