Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LAS VEGAS. Nvidia Corp. kembali menegaskan dominasinya di industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
CEO Nvidia Jensen Huang mengumumkan bahwa chip generasi terbaru perusahaan kini telah memasuki tahap produksi penuh dan mampu menghadirkan kinerja komputasi AI hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan chip generasi sebelumnya, khususnya untuk menjalankan chatbot dan aplikasi AI lainnya.
Dalam pidato kuncinya pada ajang Consumer Electronics Show (CES) 2025 di Las Vegas, Senin (5/1), Huang mengungkapkan detail terbaru mengenai chip yang akan diluncurkan secara resmi pada tahun ini.
Para eksekutif Nvidia menyebutkan bahwa chip tersebut sudah berada di laboratorium perusahaan dan tengah diuji oleh berbagai perusahaan AI, di tengah meningkatnya persaingan baik dari rival tradisional maupun dari pelanggan Nvidia sendiri.
Baca Juga: CEO Nvidia: Chip Generasi Terbaru Sudah Diproduksi Massal
Platform terbaru Nvidia tersebut diberi nama Vera Rubin, yang terdiri dari enam chip berbeda. Sistem server andalannya akan mengintegrasikan 72 unit graphics processing unit (GPU) Nvidia serta 36 unit central processing unit (CPU) terbaru.
Huang menjelaskan bahwa sistem ini dapat dirangkai dalam bentuk “pod” yang berisi lebih dari 1.000 chip Rubin, sehingga mampu meningkatkan efisiensi pembuatan token AI—unit dasar dalam sistem kecerdasan buatan—hingga 10 kali lipat.
Menurut Huang, lonjakan performa tersebut dicapai dengan memanfaatkan format data berpemilik (proprietary) yang dikembangkan Nvidia dan diharapkan dapat diadopsi secara luas oleh industri teknologi.
“Inilah cara kami menghadirkan peningkatan performa yang sangat besar, meskipun jumlah transistor hanya meningkat sekitar 1,6 kali,” ujar Huang.
Persaingan Kian Ketat di Pasar AI
Meski Nvidia masih mendominasi pasar pelatihan model AI, perusahaan menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam hal penyajian hasil model AI ke ratusan juta pengguna chatbot dan aplikasi digital.
Baca Juga: Perak Salip Nvidia, Jadi Aset Terbesar Kedua Dunia Setelah Emas
Tantangan tersebut datang dari pesaing lama seperti Advanced Micro Devices (AMD), serta dari pelanggan besar seperti Alphabet (Google) yang kini mengembangkan chip AI sendiri.
Sebagian besar pidato Huang menyoroti kemampuan chip baru Nvidia dalam menangani beban kerja tersebut. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah teknologi penyimpanan baru bernama context memory storage, yang dirancang untuk membantu chatbot memberikan respons yang lebih cepat dan relevan terhadap pertanyaan panjang serta percakapan berkelanjutan.
Selain itu, Nvidia juga memperkenalkan generasi terbaru switch jaringan dengan teknologi co-packaged optics, yang sangat penting untuk menghubungkan ribuan mesin dalam satu sistem komputasi terpadu. Teknologi ini akan bersaing langsung dengan solusi dari Broadcom dan Cisco Systems.
Dukungan dari Raksasa Teknologi Global
Nvidia menyatakan bahwa CoreWeave akan menjadi salah satu perusahaan pertama yang menggunakan sistem Vera Rubin. Selain itu, Nvidia memperkirakan raksasa teknologi global seperti Microsoft, Oracle, Amazon, dan Alphabet juga akan mengadopsi platform tersebut dalam waktu dekat.
Di luar perangkat keras, Huang juga mengumumkan pengembangan perangkat lunak baru untuk kendaraan otonom. Perangkat lunak bernama Alpamayo dirancang untuk membantu mobil swakemudi mengambil keputusan terkait jalur perjalanan sekaligus menyediakan jejak data (paper trail) yang dapat dievaluasi oleh para insinyur.
Nvidia berencana merilis perangkat lunak tersebut secara lebih luas, termasuk membuka data pelatihannya untuk produsen otomotif.
“Kami tidak hanya membuka sumber modelnya, tetapi juga membuka data yang kami gunakan untuk melatih model tersebut. Hanya dengan cara itu kepercayaan terhadap AI dapat benar-benar dibangun,” kata Huang.
Akuisisi dan Isu Geopolitik Chip
Pada bulan lalu, Nvidia juga merekrut talenta dan teknologi chip dari startup Groq, termasuk sejumlah eksekutif yang sebelumnya berperan penting dalam pengembangan chip AI Google.
Meski Google masih menjadi pelanggan utama Nvidia, chip internal Google kini dinilai sebagai salah satu ancaman terbesar bagi dominasi Nvidia, terutama karena kerja sama Google dengan Meta Platforms dan perusahaan teknologi lainnya.
Baca Juga: Nvidia Dikabarkan Akan Mengakuisisi Groq Senilai US$ 20 Miliar, Perkuat Chip AI
Menanggapi akuisisi tersebut, Huang menegaskan bahwa langkah ini tidak akan mengganggu bisnis inti Nvidia, namun berpotensi melahirkan produk baru yang memperluas portofolio perusahaan.
Di sisi lain, Nvidia juga menyoroti performa chip generasi sebelumnya seperti H200, yang masih diizinkan pemerintah AS untuk diekspor ke China. Chip tersebut, pendahulu dari seri Blackwell, dilaporkan memiliki permintaan tinggi di China, sehingga memicu kekhawatiran sejumlah kalangan politik di Amerika Serikat.
Huang mengonfirmasi bahwa permintaan chip H200 di China masih sangat kuat. Chief Financial Officer Nvidia, Colette Kress, menambahkan bahwa perusahaan telah mengajukan izin ekspor chip tersebut dan masih menunggu persetujuan dari pemerintah AS serta otoritas terkait lainnya.
Dengan peluncuran platform Vera Rubin dan inovasi di sisi perangkat keras maupun perangkat lunak, Nvidia berupaya mempertahankan posisinya sebagai pemimpin global di industri AI, sekaligus menjawab tantangan persaingan dan dinamika geopolitik yang semakin kompleks.













