kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Obligasi Korporasi Banyak Diminati Investor Ritel Karena Tingginya Imbal Hasil


Minggu, 31 Agustus 2025 / 13:56 WIB
Obligasi Korporasi Banyak Diminati Investor Ritel Karena Tingginya Imbal Hasil
ILUSTRASI. A campaign advertising of Rakuten Pay, a QR code mobile payment system operated by Rakuten, is displayed at a coffee shop in Tokyo, Japan May 30, 2019. Picture taken May 30, 2019. REUTERS/Issei Kato


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Penjualan obligasi korporasi kepada investor ritel di Jepang mengalami lonjakan. Bahkan nilainya diperkirakan melampaui rekor tahun lalu. Pemicunya adalah tingkat imbal hasil yang lebih tinggi yang menarik minat masyarakat untuk melindungi tabungan mereka dari tekanan inflasi dan suku bunga yang mulai naik.

Nama-nama besar seperti operator kereta api Keio Corp., peritel raksasa Aeon Co., hingga Rakuten Group Inc. menawarkan obligasi yang menyasar investor non-profesional. Aeon, misalnya, meluncurkan obligasi ritel perdananya pada 29 Agustus senilai ¥60 miliar dengan kupon 2,025%.

Obligasi ritel dari SoftBank Group Corp. dengan tenor lima tahun menawarkan imbal hasil hingga 3,34%, hampir tiga kali lipat dari obligasi pemerintah dengan jatuh tempo yang sama. Kondisi ini menjadikan obligasi korporasi ritel sebagai alternatif menarik dibanding deposito bank atau surat utang negara.

Baca Juga: Inflasi Inti Tokyo Melambat Tetapi Tetap di Atas Target BOJ

Menurut data yang dikumpulkan Bloomberg, penjualan obligasi ritel telah mencapai sekitar ¥ 1,5 triliun setara dengan US$ 10,2 miliar dalam lima bulan pertama tahun fiskal yang dimulai 1 April. Ini mendekati angka sepanjang tahun fiskal sebelumnya sebesar ¥ 2,4 triliun 

"Obligasi menawarkan pendapatan bunga dan pengembalian pokok selama tidak ada gagal bayar jadi ini lebih menarik daripada sekadar menyimpan uang di bank," ujar Koji Ota, pekerja transportasi berusia 37 tahun dari Osaka, yang telah berinvestasi di obligasi korporasi selama tiga tahun terakhir.

Sebagai contoh, seseorang yang membeli obligasi dua tahun dari Rakuten senilai ¥ 1 juta dengan kupon 3,3% pada Februari 2023 akan menerima total sekitar ¥ 1,07 juta pada saat jatuh tempo. Sebagai perbandingan, deposito berjangka dua tahun di Mizuho Bank hanya memberikan bunga 0,325%, dan obligasi pemerintah dengan tenor yang sama menawarkan hasil sekitar 0,87%.

Meskipun indeks saham Topix telah melonjak sekitar 30% sejak awal 2024, volatilitas pasar koreksi tajam 20% pada Agustus 2024 dan April 2025. Ini membuat banyak investor ritel memilih jalan yang lebih konservatif.

"Terjun ke pasar saham terasa terlalu berisiko," kata Kyoko Takahata, ibu rumah tangga berusia 37 tahun dari Okayama, yang mulai mengalihkan sekitar 20% tabungannya ke obligasi korporasi tahun lalu.

Baca Juga: Output Pabrik Jepang Turun Lebih Dalam pada Juli, Penjualan Ritel Mengecewakan

Faktor lain yang mendorong tren ini adalah ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank of Japan (BOJ) di tengah inflasi yang meningkat. Setelah bertahun-tahun menjalankan kebijakan suku bunga di bawah nol, perubahan arah ini membuat investor makin memperhatikan peluang hasil investasi yang lebih tinggi.

Namun, para ahli mengingatkan imbal hasil tinggi datang dengan risiko lebih besar. Beberapa perusahaan menerbitkan obligasi dengan bonus non-moneter seperti undian berhadiah, merchandise eksklusif, hingga karakter animasi untuk menarik investor.

Diantaranya, Rakuten Cardman Bond yang menawarkan desain karakter pahlawan super. Obligasi Prefektur Fukui menawarkan undian bertema dinosaurus.

Keio Corp mengadakan undian dengan hadiah menginap di Hotel Keio Plaza Tokyo, makan malam mewah di restoran Ukai-tei, dan merchandise Klub Sepak Bola Tokyo.

"Kami melihat ini sebagai cara untuk membangun hubungan lebih kuat dengan investor ritel," ujar Yuki Iimuro dari departemen keuangan Keio. Meski inovatif, bonus dan promosi ini bisa mengaburkan pemahaman investor akan risiko yang terlibat. Asosiasi Pedagang Efek Jepang bahkan telah menyelidiki adanya penyimpangan dalam penjualan, termasuk dugaan pembesar-besaran permintaan kepada penerbit obligasi.

"Dengan suku bunga naik, investor ritel makin tertarik pada imbal hasil,” kata Toshiyasu Ohashi, profesor tamu di Universitas Perdagangan Chiba. Namun, menurut dia, perlu meningkatkan literasi keuangan dan memperkuat regulasi agar investor terlindungi.

Baca Juga: BoJ Pantau Ekonomi Jepang: Suku Bunga Bakal Naik?

Terlepas dari risiko, tren penerbitan obligasi ritel diperkirakan terus berlanjut. Aeon menyebut ekspansi akun investasi bebas pajak di Jepang turut meningkatkan minat investor individu.

"Dengan kenaikan suku bunga acuan, kami percaya obligasi ini tetap menarik bahkan tanpa insentif promosi," ujar Takatoshi Kabayama, kepala divisi penerbitan utang Aeon.

Selanjutnya: Ekspansi Jaringan, Nusantara Sejahtera Raya Buka 6 Bioskop Baru hingga Juli 2025

Menarik Dibaca: Keunggulan Vivo Y500: Dari Desain Modern hingga Daya Tahan Super




TERBARU

[X]
×