Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memutuskan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober 2026. Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan tujuh negara anggota inti OPEC+ pada Minggu (6/9/2026).
Dalam pernyataannya, OPEC+ menyebut kebijakan produksi untuk Oktober tidak mengalami perubahan. Kelompok produsen minyak tersebut masih perlu menyepakati kuota produksi baru sebelum menentukan langkah selanjutnya terkait tingkat produksi.
Pertemuan yang melibatkan Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman berlangsung ketika perang Iran masih mengganggu ekspor minyak melalui Selat Hormuz.
Gangguan tersebut berpotensi membatasi pengaruh OPEC+ terhadap harga minyak sekaligus kemampuannya mempertahankan pangsa pasar global.
Produksi OPEC+ Masih di Bawah Target
Pada Agustus lalu, OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi untuk September. Kebijakan tersebut sekaligus menyelesaikan penghapusan secara bertahap pemangkasan pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang pertama kali disepakati pada 2023.
Baca Juga: Iran Balik Ancam AS, Perang dan Sanksi Makin Menghimpit Ekonomi Teheran
Meski produksi telah dinaikkan sesuai kesepakatan, kelompok yang terdiri atas negara-negara anggota OPEC dan sejumlah sekutunya, termasuk Rusia, masih memproduksi minyak jauh di bawah target yang telah ditetapkan.
Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh dampak perang dan gangguan terhadap jalur perdagangan minyak.
Konflik Iran Batasi Pengaruh OPEC+
Analis Rystad Energy, Jorge Leon, menilai kemampuan OPEC+ untuk memengaruhi pasar minyak secara langsung saat ini semakin terbatas.
"OPEC+ saat ini memiliki kekuatan yang sangat terbatas atas pasar minyak fisik. Kelompok tersebut dapat mengubah target produksi di atas kertas, tetapi tidak dapat menjamin bahwa minyak tersebut benar-benar diproduksi atau benar-benar sampai ke pasar," ujar Leon.
Menurut dia, perhatian pasar kini mulai bergeser dari perubahan produksi bulanan menuju pembahasan yang lebih penting mengenai kebijakan produksi OPEC+ untuk 2027.
"Fokus sekarang beralih dari penyesuaian produksi bulanan menuju perdebatan yang jauh lebih penting mengenai 2027," katanya.
OPEC+ Masih Memiliki Pemangkasan Produksi hingga 2026
OPEC+ masih menerapkan lapisan pemangkasan produksi lainnya yang mencakup sebagian besar anggota dari total 21 negara dalam kelompok tersebut hingga akhir 2026.
Sebelum memutuskan bagaimana pemangkasan tersebut akan dikurangi dan produksi dikembalikan ke pasar, OPEC+ perlu meninjau kapasitas produksi minyak masing-masing negara anggota.
Peninjauan kapasitas tersebut penting karena akan menjadi dasar dalam menentukan baseline produksi 2027, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan penetapan kuota produksi setiap negara.
Pembahasan mengenai kapasitas produksi dan baseline 2027 diperkirakan berlangsung pada akhir 2026.
Baca Juga: Utusan Trump Bertemu Zelenskiy, Akankah Perang Rusia-Ukraina Segera Berakhir?
Sumber-sumber sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa kondisi tersebut membuat OPEC+ kemungkinan menghentikan sementara peningkatan produksi pada kuartal IV 2026.
Namun, pernyataan OPEC+ pada Minggu tidak menyebutkan kebijakan produksi setelah Oktober.
Pertemuan OPEC+ Berikutnya Oktober
Dalam beberapa tahun terakhir, keputusan mengenai penyesuaian produksi bulanan hanya melibatkan tujuh negara yang menggelar pertemuan pada Minggu tersebut.
Uni Emirat Arab juga sebelumnya terlibat dalam keputusan produksi bulanan tersebut hingga negara itu keluar dari OPEC pada Mei 2026.
Ketujuh negara tersebut akan kembali menggelar pertemuan pada 4 Oktober 2026 untuk membahas kebijakan produksi berikutnya.
Keputusan mempertahankan kebijakan produksi Oktober menjadi perhatian pasar minyak global, terutama di tengah ketidakpastian pasokan akibat konflik Iran dan gangguan terhadap lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz.
Dengan ruang gerak OPEC+ yang semakin terbatas di pasar fisik, perkembangan konflik Iran serta pembahasan mengenai kuota produksi 2027 berpotensi menjadi faktor yang lebih menentukan arah pasar minyak dalam beberapa bulan mendatang.














