Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran menyatakan akan memperkuat upaya untuk mengatasi tekanan ekonomi akibat sanksi Amerika Serikat (AS) yang semakin membebani perekonomian negara tersebut.
Di tengah meningkatnya kembali aksi saling serang dengan AS, pejabat senior Iran juga memperingatkan bahwa Teheran akan memberikan respons yang lebih cepat dan menyakitkan jika kembali diserang.
Enam bulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, konflik kedua negara tampaknya masih berada dalam kondisi buntu. Kesepakatan awal gencatan senjata yang dicapai pada Juni 2026 telah terurai, sementara upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali proses perdamaian belum menunjukkan perkembangan berarti.
Setelah aktivitas militer sempat mereda hampir sepanjang Juli, serangan balasan antara kedua pihak kembali terjadi. Komando Pusat AS atau U.S. Central Command (CENTCOM) pada Sabtu menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker Iran.
Serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke dua kapal Angkatan Laut AS.
Baca Juga: Utusan Trump Bertemu Zelenskiy, Akankah Perang Rusia-Ukraina Segera Berakhir?
Iran Ancam Respons Lebih Menyakitkan
Ketegangan terbaru memicu pernyataan keras dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. Pada Minggu, ia mengatakan AS harus menyadari bahwa aturan dalam perang melawan Iran telah berubah.
"Mulai sekarang, setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat respons yang lebih cepat, lebih berat dan lebih menyakitkan," kata Qalibaf dalam pidatonya yang dipublikasikan melalui kanal Telegram miliknya.
Iran sejauh ini masih menunjukkan kemampuan untuk menyerang kepentingan AS di negara-negara tetangga. Teheran juga memiliki kemampuan untuk mengganggu bahkan menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi global. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur perairan tersebut.
Sanksi AS Tekan Ekonomi Iran
Di sisi lain, tekanan ekonomi yang dilancarkan AS terhadap Iran semakin sulit ditanggung. Tiga sumber senior Iran mengatakan kampanye AS untuk menekan perekonomian Iran dilakukan dengan menghambat ekspor minyak dan memperketat upaya untuk mencegah penghindaran sanksi.
Dalam pidatonya, Qalibaf mengatakan bahwa selain menghadapi perang di medan militer, pertempuran utama Iran saat ini juga berkaitan dengan produksi dan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyoroti sejumlah persoalan ekonomi, mulai dari fluktuasi nilai tukar yang tajam, inflasi, pengangguran hingga pengelolaan pasar.
Menurut Qalibaf, masyarakat Iran masih mampu menghadapi kesulitan ekonomi. Namun, masyarakat tidak dapat menerima buruknya pengelolaan maupun kelambanan pemerintah dalam mengatasi persoalan tersebut.
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah akan merespons tekanan ekonomi AS melalui reformasi. Ia juga menolak anggapan bahwa sanksi ekonomi akan membuat Iran mengubah arah kebijakannya.
"Mereka berbicara mengenai tekanan dan isolasi ekonomi, memutus hubungan keuangan, dan mereka berpikir bahwa dengan menekan perekonomian suatu negara, mereka dapat mengubah keputusan rakyatnya," ujar Madanizadeh seperti dikutip media pemerintah Iran, Minggu.
Baca Juga: China Suntik Dana US$54 Miliar kepada Bank dan Asuransi Milik Negara
"Saya harus menjelaskan satu hal: tanggung jawab untuk mereformasi perekonomian Iran berada di tangan pemerintah dan rakyat Iran, bukan Departemen Keuangan AS," lanjutnya.
Secara terpisah, Wakil Menteri Ekonomi Iran Morteza Zamanian mengatakan kementeriannya akan meningkatkan kerja "Markas Perang Ekonomi" untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul akibat perang.
Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Pulau Kharg Disebut Diserang 550 Kali
Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di antara negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC. Sebelum perang, sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran dikirim melalui pusat ekspor di Pulau Kharg.
Namun, arus ekspor minyak Iran terganggu sejak AS memulai blokade terhadap ekspor minyak Iran pada pertengahan April.
Pada 31 Agustus, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan singkat di media sosial yang disertai video hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan Pulau Kharg "dihancurkan berkeping-keping". Pemerintah Iran sebelumnya telah memperingatkan akan memberikan respons keras apabila pulau tersebut diserang.
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan dalam wawancara yang ditayangkan televisi pemerintah pada Minggu bahwa Pulau Kharg telah terkena serangan sekitar 550 kali dalam beberapa bulan sebelumnya. Meski demikian, aktivitas di kawasan tersebut masih tetap berjalan.
Selat Hormuz Jadi Titik Strategis Konflik
Iran juga memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz, yang berpotensi menimbulkan tekanan baru terhadap pasar energi global.
Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dunia dan berpotensi menjadi persoalan politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu atau midterm elections AS pada November mendatang.
Pada Sabtu, CENTCOM menyatakan telah menyerang tiga kapal Iran, termasuk satu kapal yang berada di lepas pantai Pulau Kharg.
Serangan itu dilakukan setelah IRGC menembakkan rudal balistik ke dua kapal Angkatan Laut AS.
"Biarkan pesan kepada IRGC menjadi jelas: Jika Anda menembaki dua kapal kami, kami akan memberikan biaya ekonomi yang lebih tinggi—dengan menghancurkan tiga kapal Anda," kata Laksamana Brad Cooper, Kepala CENTCOM yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah.
Baca Juga: AS Kembali Dorong Perdamaian Rusia-Ukraina, Utusan Trump Temui Zelensky
IRGC kemudian mengancam akan meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal militer AS di kawasan tersebut. Iran juga menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker serta tiga kapal lain yang memiliki keterkaitan dengan AS di wilayah berbeda.
"Jangan tertipu oleh militer AS yang 'teroris' dan hindari setiap pergerakan mencurigakan yang bertujuan melintas melalui jalur perairan yang tidak diizinkan. Jika tidak, Anda akan menjadi sasaran," demikian pernyataan Angkatan Laut IRGC yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Tasnim sebelumnya melaporkan empat rudal AS menghantam sebuah kapal tanker di kawasan pelabuhan Pulau Kharg. Berdasarkan keterangan sumber lokal yang dikutip Tasnim, tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut dan awak kapal sedang dievakuasi.
CENTCOM mengatakan tidak ada personel AS yang terluka.
Pada Minggu, Tasnim juga melaporkan bahwa IRGC menembak jatuh balon pengawasan AS di atas Erbil, Irak bagian utara. Iran menyebut tindakan tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menghancurkan sistem pengawasan udara dan peringatan dini milik AS di kawasan tersebut.














