Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - LONDON/MOSKOW. OPEC+ sepakat tidak mengubah tingkat produksi minyak untuk kuartal pertama 2026. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan OPEC+, Minggu (30/11/2025).
Keputusan ini diambil seiring dengan upaya OPEC+ mendapatkan kembali pangsa pasar di tengah kekhawatiran akan kelebihan pasokan yang membayangi.
Pertemuan OPEC+, yang memproduksi separuh minyak dunia, berlangsung di tengah upaya Amerika Serikat (AS) menengahi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Jika nantinya sanksi terhadap Rusia diperlonggar, pasokan minyak global bakal bertambah.
Jika kesepakatan damai gagal, pasokan Rusia dapat semakin dibatasi oleh sanksi. OPEC+ merupakan kelompok Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta sekutunya yang dipimpin oleh Rusia.
Baca Juga: OPEC+ Diperkirakan Kembali Kerek Produksi Minyak Mulai Oktober 2025
"Pesan dari kelompok tersebut jelas: stabilitas lebih penting daripada ambisi di saat prospek pasar memburuk dengan cepat," kata Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, yang juga mantan pejabat OPEC, Minggu (30/11/2025).
OPEC+ telah menghentikan sementara kenaikan produksi minyak untuk kuartal pertama tahun 2026, setelah melepas sekitar 2,9 juta barel per hari ke pasar sejak April 2025. Pertemuan hari Minggu menegaskan kembali keputusan tersebut.
Kelompok ini sebelumnya menyepakati pemangkasan produksi 3,24 juta barel per hari. Jumlah ini mewakili sekitar 3% dari permintaan global. Pertemuan hari Minggu tersebut tidak mengubah rencana tersebut.
OPEC+ telah menyetujui mekanisme untuk menilai kapasitas produksi maksimum anggota yang akan digunakan untuk menetapkan batas dasar produksi mulai tahun 2027. Hal ini akan menjadi dasar penetapan target produksi anggota.
Baca Juga: Mulai September, OPEC+ Sepakat Naikkan Produksi Minyak 547.000 Barel per Hari
OPEC+ telah membahas masalah kapasitas produksi maksimum selama bertahun-tahun. Ini terbukti sulit dilakukan karena beberapa anggota seperti Uni Emirat Arab telah meningkatkan kapasitas dan menginginkan kuota yang lebih tinggi.
Anggota lain seperti negara-negara Afrika telah mengalami penurunan kapasitas produksi tetapi menolak pemotongan kuota. Angola keluar dari grup tersebut pada 2024 karena ketidaksepakatan mengenai kuota produksi.













