kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.287   21,00   0,12%
  • IDX 7.072   -34,13   -0,48%
  • KOMPAS100 955   -6,68   -0,69%
  • LQ45 682   -4,42   -0,64%
  • ISSI 255   -2,37   -0,92%
  • IDX30 378   -0,88   -0,23%
  • IDXHIDIV20 463   -1,76   -0,38%
  • IDX80 107   -0,70   -0,65%
  • IDXV30 135   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 121   -0,66   -0,55%

OPEC+ Tak Bubar, Tapi Kekuatan Kartel Mulai Luntur Usai UEA Angkat Kaki


Rabu, 29 April 2026 / 04:27 WIB
OPEC+ Tak Bubar, Tapi Kekuatan Kartel Mulai Luntur Usai UEA Angkat Kaki
ILUSTRASI. Pengaruh OPEC+ di pasar minyak terus menurun. Simak mengapa keluarnya UEA mempercepat pelemahan kendali pasokan global. (REUTERS/DADO RUVIC)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - OPEC dan sekutunya diperkirakan akan kehilangan sebagian kekuatan dalam mengendalikan pasar minyak setelah Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari kelompok itu pada 1 Mei. Namun, aliansi produsen lainnya kemungkinan tetap solid dan terus berkoordinasi dalam kebijakan pasokan minyak, kata para delegasi OPEC+ dan analis pada Selasa (28/4/2026).

Reuters melaporkan, UEA merupakan produsen terbesar keempat dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pada Selasa menyatakan akan meninggalkan OPEC setelah hampir 60 tahun menjadi anggota. Keputusan ini membebaskan Abu Dhabi dari target produksi minyak yang selama ini ditetapkan OPEC dan sekutunya untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan.

Lima sumber OPEC+ menyebut keluarnya UEA ini mengejutkan. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak diizinkan berbicara kepada media.

Empat dari lima sumber tersebut mengatakan keluarnya UEA akan mempersulit upaya OPEC+ dalam menyeimbangkan pasar melalui penyesuaian pasokan, karena aliansi itu akan mengendalikan porsi produksi global yang lebih kecil.

UEA akan menjadi produsen minyak terbesar yang pernah keluar dari OPEC, sebuah pukulan berat bagi organisasi tersebut dan pemimpin de facto-nya, Arab Saudi. Abu Dhabi memompa sekitar 3,4 juta barel per hari (bpd) atau sekitar 3% pasokan minyak mentah dunia sebelum perang AS-Israel melawan Iran memaksa UEA dan produsen Teluk lainnya mengurangi pengiriman serta menutup sebagian produksi.

OPEC dan kantor komunikasi pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Baca Juga: OPEC+ Bahas Kenaikan Produksi di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Perang Iran

Setelah keluar dari OPEC, UEA akan bergabung dengan jajaran produsen minyak independen yang bisa memproduksi sesuai keinginan, seperti Amerika Serikat dan Brasil. 

Namun untuk saat ini, UEA tidak bisa banyak meningkatkan produksi atau ekspor karena jalur pelayaran melalui Selat Hormuz secara efektif masih tertutup. Jika dan ketika pelayaran kembali normal seperti sebelum perang, UEA dapat meningkatkan produksi hingga kapasitas negara itu sebesar 5 juta bpd minyak mentah dan cairan minyak lainnya.

Selama ini terdapat ketegangan antara UEA dan Arab Saudi terkait kuota produksi UEA yang saat ini berada di angka 3,5 juta bpd. UEA meminta kuota lebih besar karena mereka telah memperluas kapasitas produksi melalui program investasi senilai US$ 150 miliar.

“Selama bertahun-tahun Abu Dhabi ingin memonetisasi investasinya dalam ekspansi kapasitas,” kata Helima Croft dari RBC Capital Markets. Namun perang AS-Israel melawan Iran akan memperlambat rencana tersebut setelah drone dan roket merusak fasilitas produksi UEA, ujarnya.

Perang ini memicu gangguan pasokan energi global terbesar dalam sejarah jika dilihat dari total produksi minyak harian yang terdampak, menurut International Energy Agency (IEA). Konflik tersebut juga memperlihatkan ketidakharmonisan di antara negara-negara Teluk, termasuk antara UEA dan Arab Saudi.

Rumor keluarnya UEA dari OPEC+ telah beredar selama bertahun-tahun seiring memburuknya hubungan dengan Riyadh terkait konflik di Sudan, Somalia, dan Yaman. UEA juga semakin dekat dengan Amerika Serikat dan Israel.

Baca Juga: Panel OPEC+ Sesalkan Serangan ke Infrastruktur Energi di Perang Iran

Irak Tetap Bertahan

UEA menjadi produsen keempat yang keluar dari OPEC+ dalam beberapa tahun terakhir, dan sejauh ini yang terbesar. Angola keluar pada 2024 karena perselisihan soal level produksi. Ekuador keluar dari OPEC pada 2020 dan Qatar pada 2019.

Irak, produsen terbesar ketiga di OPEC+ setelah Arab Saudi dan Rusia, tidak berencana keluar dari OPEC+ karena menginginkan harga minyak yang stabil dan dapat diterima, kata dua pejabat minyak Irak pada Selasa.

OPEC+ tidak akan runtuh karena Arab Saudi masih ingin mengelola pasar dengan bantuan kelompok tersebut, kata Gary Ross, pengamat OPEC veteran sekaligus CEO Black Gold Investors.

“Pada akhirnya, Arab Saudi pada dasarnya adalah OPEC—satu-satunya negara yang memiliki kapasitas cadangan,” kata Ross. Arab Saudi mampu memproduksi 12,5 juta bpd, namun dalam beberapa tahun terakhir menahan produksi di bawah 10 juta bpd.

Keanggotaan OPEC+ memberi negara-negara bobot diplomatik dan pengaruh internasional yang lebih besar—salah satu alasan yang disebut analis mengapa Iran tetap bertahan di OPEC bahkan ketika konflik dengan negara-negara Teluk memuncak.

Presiden AS Donald Trump menuduh OPEC “merampok dunia” dengan menaikkan harga minyak. Trump mengatakan AS dapat mempertimbangkan ulang dukungan militernya untuk negara-negara Teluk akibat kebijakan minyak OPEC.

Namun Trump juga pernah membantu meyakinkan OPEC+ untuk memangkas produksi pada 2020 saat pandemi COVID-19, ketika harga minyak anjlok dan produsen AS terpukul.

“Penarikan UEA menandai perubahan besar bagi OPEC... implikasi jangka panjangnya adalah OPEC akan secara struktural menjadi lebih lemah,” kata Jorge Leon, mantan pejabat OPEC yang kini bekerja di Rystad Energy.

Croft menambahkan, anggota OPEC+ kemungkinan lebih fokus membangun kembali fasilitas produksi yang rusak akibat perang ketimbang membahas pemangkasan produksi dalam waktu dekat. Karena itu, perpecahan besar dalam OPEC+ belum mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Tonton: Iran Siap Buka Selat Hormuz, Tapi Ada Syarat Keras untuk AS!

Kekuatan OPEC Terus Menurun

Pengaruh OPEC terhadap pasar minyak telah menurun selama beberapa dekade.

OPEC yang dibentuk pada 1960 pernah mengendalikan lebih dari 50% produksi global. Namun seiring meningkatnya produksi pesaing, pangsa OPEC turun menjadi sekitar 30% dari total produksi minyak dan cairan minyak dunia yang mencapai 105 juta bpd tahun lalu.

Amerika Serikat, yang dulu bergantung pada impor minyak dari anggota OPEC, kini menjadi pesaing terbesar dalam 15 tahun terakhir. AS meningkatkan produksi hingga mencapai sekitar 20% produksi global berkat ledakan minyak serpih (shale oil).

Lonjakan produksi AS mendorong OPEC pada 2016 menggandeng beberapa produsen non-OPEC untuk membentuk OPEC+, kelompok yang dipimpin Rusia, yang sebelumnya merupakan salah satu pesaing utama Arab Saudi di industri minyak.

Aliansi ini memberi kelompok tersebut kendali atas sekitar 50% produksi minyak global pada 2025, menurut IEA. Dengan keluarnya UEA, angka itu diperkirakan turun menjadi sekitar 45%.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×