Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2026).
Pelemahan dipicu menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Baca Juga: Alarm untuk Industri! Ekspor Melemah, PMI Manufaktur Korea Selatan Mulai Melambat
Berdasarkan data Reuters hingga pukul 02.03 GMT, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia setelah turun 0,57% ke level 1.558,40 per dolar AS.
Di posisi berikutnya, rupiah melemah 0,42% ke level Rp 17.950 per dolar AS, disusul peso Filipina yang turun 0,38% dan baht Thailand yang terkoreksi 0,20%.
Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,16%, ringgit Malaysia turun 0,10%, yen Jepang terkoreksi 0,07%, dan yuan China melemah 0,05% terhadap dolar AS.
Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, dolar Taiwan justru menguat tipis 0,04%, sedangkan rupee India bergerak relatif stabil.
Secara year to date (YTD), won Korea Selatan dan rupiah masih menjadi dua mata uang Asia dengan pelemahan terbesar terhadap dolar AS sepanjang 2026.
Baca Juga: Coinbase, Ripple, Crypto.com Masuk Daftar Donatur Terbesar Pemilu AS 2026
Won Korea Selatan telah terdepresiasi 7,63% sejak awal tahun, sementara rupiah melemah 7,13%. Pelemahan juga dialami baht Thailand (5,54%), rupee India (5,06%), peso Filipina (4,47%), yen Jepang (3,69%), dolar Taiwan (1,22%), dolar Singapura (0,76%), dan ringgit Malaysia (0,73%).
Sebaliknya, yuan China menjadi satu-satunya mata uang utama Asia yang masih menguat terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, dengan apresiasi sekitar 2,89%.












