Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (25/6/2026), seiring penguatan greenback yang didorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Reuters hingga pukul 02.05 GMT, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan Asia, turun 0,69% ke level 61,298 per dolar AS.
Baca Juga: Pengangguran Australia Turun ke 4,4%, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Kian Menipis
Di posisi berikutnya, won Korea Selatan melemah 0,39% menjadi 1.548,70 per dolar AS, sementara dolar Taiwan turun 0,28% ke level 31,840 per dolar AS.
Rupiah Indonesia juga berada di zona merah dengan pelemahan 0,14% ke posisi Rp17.950 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.925 per dolar AS.
Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang yang mencatat penguatan terbesar di kawasan. Ringgit naik 0,53% menjadi 4,113 per dolar AS.
Adapun yen Jepang menguat tipis 0,04% ke level 161,71 per dolar AS, sedangkan baht Thailand relatif stabil di posisi 33,41 per dolar AS. Rupee India juga tidak mengalami perubahan dan bertahan di level 94,665 per dolar AS.
Baca Juga: Trump Deklarasikan Amerika Kembali di Perayaan Akbar 250 Tahun Kemerdekaan AS
Kinerja sejak awal tahun
Jika dihitung sejak awal 2026, sebagian besar mata uang Asia masih mencatat depresiasi terhadap dolar AS.
Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan, merosot 7,13% dari posisi akhir 2025 sebesar Rp16.670 per dolar AS menjadi Rp17.950 per dolar AS.
Won Korea Selatan menyusul dengan penurunan 7,05%, sementara baht Thailand melemah 5,87% dan rupee India turun 5,07%.
Peso Filipina tercatat melemah 4,08% sejak awal tahun, sedangkan yen Jepang turun 3,13%.
Baca Juga: Dolar AS ke Level Tertinggi 13 Bulan Kamis (25/6), Bertaruh The Fed Naikkan Bunga
Di sisi lain, yuan China menjadi satu-satunya mata uang utama Asia yang masih menguat terhadap dolar AS sepanjang tahun ini.
Yuan terapresiasi sekitar 2,58% ke level 6,812 per dolar AS dibandingkan posisi akhir 2025 di 6,9879 per dolar AS.
Penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir didorong meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan tahun ini.
Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk di kawasan Asia.














