Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (22/6/2026), dengan won Korea Selatan dan baht Thailand menjadi yang paling tertekan di tengah penguatan dolar dan meningkatnya ketidakpastian global terkait pembicaraan damai Amerika Serikat–Iran.
Won Korea Selatan tercatat melemah 0,41% menjadi 1.537,3 per dolar, sementara baht Thailand turun 0,30% ke level 32,925 per dolar.
Baca Juga: China Balas AS, Perketat Kontrol Ekspor dan Masukkan 10 Entitas ke Daftar Sanksi
Tekanan juga terjadi pada sebagian besar mata uang kawasan lain, termasuk yen Jepang yang melemah 0,17% ke 161,55, serta dolar Singapura yang turun 0,12%.
Rupiah Indonesia juga ikut melemah 0,17% ke level 17.805 per dolar, sementara peso Filipina turun 0,28% menjadi 60,835.
Ringgit Malaysia tercatat melemah 0,24% ke 4,144 per dolar. Yuan China relatif stabil dengan pelemahan tipis 0,02% ke 6,772.
Di Asia Selatan, rupee India tercatat stagnan di level 94,32 per dolar.
Secara keseluruhan, tekanan pada mata uang Asia terjadi di tengah dominasi dolar AS yang masih kuat, didorong ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve serta ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi pasar keuangan global.
Baca Juga: Nikkei Tembus 72.000 untuk Pertama Kalinya (22/6), Euforia AI Dongkrak Bursa Jepang
Dalam periode tahun berjalan 2026, sebagian besar mata uang Asia masih berada di bawah tekanan terhadap dolar.
Won Korea mencatat pelemahan terdalam sebesar 6,36%, diikuti rupiah Indonesia yang turun 6,37% dan baht Thailand yang melemah 4,48%. Yen Jepang juga terkoreksi 3,03% sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, yuan China justru mencatat penguatan 3,19% terhadap dolar, menjadi satu-satunya mata uang utama Asia yang masih berada di zona positif pada periode tersebut.













