Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026), dipimpin oleh won Korea Selatan dan peso Filipina.
Penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga tinggi AS yang bertahan lebih lama.
Baca Juga: China Luncurkan Obligasi Hijau US$ 885 Juta untuk Biayai Proyek Ramah Lingkungan
Melansir Reuters, Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan Asia setelah turun 0,54% ke level 1.507,50 per dolar AS.
Peso Filipina menyusul dengan pelemahan 0,48% ke posisi 61,658 per dolar AS.
Selain itu, baht Thailand turun 0,24%, dolar Singapura melemah 0,18%, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,30%.
Yuan China juga turun tipis 0,05% ke level 6,783 per dolar AS, sementara yen Jepang melemah 0,04% ke posisi 159,58 per dolar AS.
Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi ke Otoritas Selat Hormuz, Ketegangan dengan Iran Memanas
Di sisi lain, dolar Taiwan justru menguat 0,06% terhadap dolar AS ke level 31,400.
Sementara itu, rupiah Indonesia tercatat stagnan di level Rp 17.775 per dolar AS.
Secara year to date (ytd) sepanjang 2026, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam setelah turun sekitar 6,22% dibanding posisi akhir 2025.
Rupee India juga melemah sekitar 6,08% sepanjang tahun ini, sedangkan won Korea Selatan turun 4,51% dan peso Filipina terkoreksi 4,64%.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun ke US$ 4.419 Kamis (28/5) di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran
Sebaliknya, yuan China menguat sekitar 3,03% secara ytd, sementara ringgit Malaysia naik 2,11% dan dolar Singapura menguat 0,48%.
Pelaku pasar kini menanti arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), terutama setelah harga minyak melonjak akibat konflik geopolitik yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.













