Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis (28/5/2026), setelah serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut membuat prospek arah suku bunga global, khususnya kebijakan Federal Reserve (The Fed), kembali menjadi sorotan investor.
Baca Juga: Bursa Australia Terkoreksi Setelah Reli Lima Hari Kamis (28/5), Saham Bank Tertekan
Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,8% menjadi US$ 4.419,60 per ons troi pada perdagangan Asia. Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni melemah 0,7% ke level US$ 4.417,10 per ons troi.
Penguatan dolar AS turut menekan harga emas karena logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Seorang pejabat AS mengatakan militer Amerika kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran yang dianggap mengancam pasukan AS serta jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan Iran mengenai kesepakatan pemulihan lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan Dekat Level Tertinggi Sepekan Kamis (28/5), Ini Pemicunya
Ketegangan antara AS dan Iran juga mendorong harga minyak naik sekitar 2% pada perdagangan Asia.
Di sisi lain, pejabat The Fed memberikan sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka peluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan bank sentral sebaiknya mempertahankan suku bunga jangka pendek pada level saat ini.
Namun, ia menegaskan The Fed siap menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi meningkat akibat tarif perdagangan, perang Iran, dan lonjakan investasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Bursa Asia Tertahan Kamis (28/5), Konflik Timur Tengah & Ancaman Inflasi Membayangi
Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson juga menyebut kebijakan moneter saat ini sudah berada di posisi yang tepat di tengah risiko inflasi yang masih cenderung meningkat.
Investor kini menanti rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Kamis waktu setempat.
Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga ke depan.
Sementara itu, Hong Kong Futures Exchange mengumumkan akan memberikan diskon biaya transaksi serta program insentif untuk kontrak berjangka emas guna meningkatkan likuiditas perdagangan.
Tidak hanya emas, harga logam mulia lainnya juga melemah. Harga perak spot turun 1,7% menjadi US$ 73,34 per ons troi, platinum melemah 0,5% ke US$ 1.909,15, dan palladium turun 0,7% menjadi US$ 1.381,64 per ons troi.













