Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Kamis (28/5/2026), mengakhiri reli lima sesi beruntun akibat tekanan pada saham perbankan dan pertambangan.
Pelaku pasar juga mencermati rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran setelah laporan Reuters menyebut AS kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan Dekat Level Tertinggi Sepekan Kamis (28/5), Ini Pemicunya
Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,9% ke level 8.638,70, setelah sehari sebelumnya ditutup menguat 0,7%.
Seorang pejabat AS kepada Reuters mengatakan militer AS meluncurkan serangan baru ke Iran dengan menargetkan lokasi militer yang dianggap mengancam pasukan AS dan lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan masih terdapat sejumlah persoalan yang belum terselesaikan dalam pembicaraan damai dengan Iran.
Pernyataan itu muncul setelah Washington membantah laporan televisi pemerintah Iran mengenai kerangka kesepakatan pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam satu bulan serta pencabutan blokade laut AS terhadap kapal Iran.
Baca Juga: Bursa Asia Tertahan Kamis (28/5), Konflik Timur Tengah & Ancaman Inflasi Membayangi
Di Sydney, sektor keuangan turun 1,2% setelah sehari sebelumnya hanya ditutup menguat tipis.
Data inflasi Australia yang dirilis Rabu (27/5) lebih rendah dari perkiraan pasar, sehingga mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pasar swap kini memperkirakan peluang sekitar 90% bahwa bank sentral Australia akan mempertahankan suku bunga pada Juni mendatang. Sementara peluang kenaikan suku bunga pada Agustus turun menjadi sekitar 40%.
Saham bank terbesar Australia, Commonwealth Bank of Australia, melemah 0,9%. Tiga bank besar lainnya juga turun antara 1% hingga 1,5%.
Sektor pertambangan terkoreksi 1,2% setelah sebelumnya reli selama lima sesi berturut-turut, tertekan pelemahan harga tembaga dan aluminium.
Saham-saham emiten emas bahkan sempat anjlok hingga 4,1% mengikuti penurunan harga emas dunia. Sementara sektor energi turun 0,5%.
Baca Juga: Insinyur Google Didakwa Manipulasi Taruhan Polymarket, Raup Untung US$1,2 Juta
Berbeda dengan Australia, indeks acuan Selandia Baru S&P/NZX 50 justru naik 0,3% menjadi 13.264,84 menjelang pengumuman anggaran pemerintah yang dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama, sekitar lima bulan sebelum pemilu umum.
Bank sentral Selandia Baru sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan pada Rabu (27/5). Otoritas moneter kini fokus memantau sejauh mana pelemahan permintaan akibat tingginya biaya energi dapat memengaruhi harga-harga lainnya.













