Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mata uang Asia mayoritas melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (13/4/2026), dengan peso Filipina dan baht Thailand mencatat pelemahan terdalam di kawasan.
Berdasarkan data Reuters pukul 02.12 GMT, peso Filipina turun 0,89% ke level 60,419 per dolar AS. Sementara baht Thailand melemah 0,81% ke posisi 32,280 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 7% Tembus US$100 Senin (13/4) Pagi, Dipicu Blokade AS ke Iran
Pelemahan juga terjadi pada mata uang lainnya di kawasan. Won Korea Selatan turun 0,43% ke 1.489,90 per dolar AS, diikuti rupiah Indonesia yang melemah 0,29% ke level 17.135 per dolar AS.
Dolar Singapura dan dolar Taiwan masing-masing turun 0,20%, sementara ringgit Malaysia terkoreksi 0,25%.
Yen Jepang juga melemah 0,24% ke posisi 159,67 per dolar AS. Sementara itu, yuan China relatif stabil dengan pelemahan tipis 0,05%.
Secara year-to-date (ytd) sejak akhir 2025, mayoritas mata uang Asia masih berada dalam tren depresiasi terhadap dolar AS.
Won Korea Selatan tercatat melemah paling dalam sebesar 3,38%, diikuti rupee India yang turun 3,08%.
Baca Juga: Bursa Australia Turun Senin (13/4) Pagi Usai Negosiasi AS-Iran Gagal
Rupiah Indonesia juga tercatat melemah sekitar 2,71% sejak akhir tahun lalu. Peso Filipina dan baht Thailand masing-masing terdepresiasi 2,68% dan 2,57% sepanjang tahun berjalan.
Sebaliknya, beberapa mata uang justru menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menguat 2,17%, sementara yuan China naik 2,25%.
Dolar Singapura juga mencatat penguatan sebesar 0,75%.
Pergerakan mata uang Asia ini mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal, terutama dari penguatan dolar AS yang didorong oleh meningkatnya ketidakpastian global serta lonjakan harga energi di tengah konflik geopolitik yang masih berlangsung.













