Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlangsung bervariasi pada perdagangan Selasa (23/6/2026), di tengah ketidakpastian pasar global yang dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga AS dan dinamika geopolitik.
Data pasar menunjukkan sebagian mata uang Asia melemah, sementara lainnya berhasil menguat terbatas terhadap dolar AS.
Baca Juga: Syarat Lolos Grup L Piala Dunia 2026: Inggris, Ghana, Panama, Kroasia
Melansir Reuters, Peso Filipina tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan, turun 0,37% ke level 61,208 per dolar AS.
Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, naik 0,31% ke posisi 4,133 per dolar AS.
Rupiah Indonesia juga berada di zona pelemahan, turun 0,25% ke level 17.870 per dolar AS dari posisi sebelumnya 17.825.
Di sisi lain, beberapa mata uang seperti dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan baht Thailand juga mencatat pelemahan terbatas dengan variasi pergerakan yang mencerminkan sentimen pasar yang belum solid.
Yen Jepang relatif stabil di level 161,56 per dolar AS, masih berada di dekat titik terlemah dalam beberapa dekade terakhir.
Baca Juga: Singapore Airlines Pasarkan Obligasi Dim Sum 5 Tahun dengan Imbal Hasil Sekitar 2,8%
Tekanan dari Dolar AS
Pergerakan mata uang regional masih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang ditopang ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS membuat investor cenderung berhati-hati, sehingga memicu arus modal keluar dari sejumlah pasar negara berkembang di Asia.
Secara keseluruhan, mata uang Asia menunjukkan kinerja beragam sepanjang 2026. Yen Jepang tercatat melemah sekitar 3,04% sejak akhir 2025, sementara won Korea Selatan mengalami penurunan paling dalam sebesar 6,25%.
Rupiah Indonesia juga tercatat melemah sekitar 6,72% dalam periode yang sama.
Sebaliknya, yuan China menjadi satu-satunya mata uang utama di kawasan yang masih mencatat penguatan, naik sekitar 3,15% dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
Baca Juga: China Balas Daftar Hitam Pentagon, Perusahaan Rare Earth AS Jadi Sasaran
Sentimen Global Masih Dominan
Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga AS, harga minyak, serta risiko geopolitik di Timur Tengah yang turut mempengaruhi pergerakan mata uang regional.
Kombinasi faktor tersebut membuat pasar valuta asing Asia bergerak dalam pola yang tidak seragam, dengan volatilitas yang diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.














