Sumber: Daily Beast | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tampaknya mulai menangkap pesan penting: dirinya bisa saja menjadi sasaran serangan cepat seperti yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump untuk menyingkirkan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, dari kekuasaan dan membawanya ke tahanan di New York.
Penggerebekan berani oleh pasukan AS di Caracas pada 3 Januari lalu hampir pasti menimbulkan ketakutan yang jauh lebih besar bagi Kim dibandingkan latihan militer atau unjuk kekuatan udara apa pun.
Pada saat yang sama, peristiwa tersebut juga meningkatkan risiko terjadinya konfrontasi nuklir, seiring Kim masuk ke mode panik, dipicu oleh presiden AS yang selama ini kerap membanggakan “hubungan yang sangat baik” antara keduanya.
“Operasi untuk melakukan ‘rendition’ terhadap presiden Venezuela menunjukkan kemampuan yang patut menjadi perhatian Korea Utara,” kata Sydney Seiler, mantan pejabat intelijen nasional AS untuk Korea Utara di National Intelligence Council, seperti yang dikutip Daily Beast.
Istilah “rendition” yang digunakan Seiler merupakan bahasa internal CIA, merujuk pada penangkapan target musuh untuk dibawa ke tempat lain guna diadili atau bahkan disiksa dan dibunuh.
Kata kunci lain yang tak asing bagi Kim adalah “decapitation” atau pemenggalan kepemimpinan. Kim tahu betul bahwa Amerika telah lama melatih skenario ini dalam latihan militer tahunan mereka.
Baca Juga: Khazanah Malaysia Arahkan Lebih Banyak Modal ke Jaringan Listrik dan Industri Chip
“Yang membuatnya menarik adalah karena decapitation merupakan cara tercepat untuk mengakhiri konflik,” ujar Seiler, yang pernah beberapa kali mengunjungi Korea Utara sebagai bagian dari tim perunding sebelum Pyongyang memutus seluruh komunikasi setelah kegagalan pertemuan Kim dan Trump pada 2019.
Menurut Seiler, decapitation akan sangat membantu untuk menekan Korea Utara. Tanpa Kim Jong Un, Korea Utara tidak akan memiliki pemimpin, tidak ada sosok yang tahu bagaimana mengendalikan angkatan bersenjata mereka yang berjumlah sekitar 1,2 juta personel, kekurangan gizi, dan apalagi seseorang yang memegang kendali atas program nuklir negara itu.
Ketakutan terdalam Kim terhadap skenario seperti yang terjadi di Caracas tampak dari keputusannya mengizinkan penayangan film tentang penangkapan Maduro kepada publik Korea Utara.
Film berjudul Days and Nights of Confrontation ditayangkan di televisi pemerintah Korea Utara pada waktu yang sangat tepat, hanya beberapa hari setelah pasukan elite AS menangkap Maduro dan istrinya. Pesannya jelas: apa yang menghalangi Amerika melakukan hal serupa di Korea Utara?
Film tersebut mencerminkan “tren konten bergaya Hollywood yang provokatif dan ditujukan untuk menarik generasi muda,” tulis situs Korea Selatan, NK News, yang memantau Korea Utara. “Tentu saja Kim dan keluarganya, termasuk adik perempuannya yang berapi-api, Yo-Jong, serta putri remajanya yang sangat ia sayangi, Ju-ae, akan menjadi target yang sangat menarik.”
Dalam satu operasi saja, Amerika bisa menghapus seluruh dinasti yang didirikan oleh kakek Kim, Kim Il-Sung, yang dipasang sebagai pemimpin Korea Utara oleh Uni Soviet setelah Jepang menyerah pada 1945.
Menangkap Kim bukanlah gagasan baru bagi para ahli “rendition” Amerika.
Baca Juga: Kebijakan Visa AS Berbuntut Panjang, Negara Lain Balas Setimpal
“Beberapa staf Gedung Putih percaya kematiannya akan melumpuhkan negaranya,” tulis Joel Wit, mantan anggota tim perunding AS yang pernah memeriksa fasilitas nuklir Yongbyon setelah Korea Utara menandatangani kesepakatan penghentian produksi senjata nuklir pada 1994.
“Pergi dan tangkap Kim Jong Un, kami siap melakukan itu,” kata Wit dalam bukunya Fallout: The Inside Story of America’s Failure to Disarm North Korea. Seorang pejabat dikutip mengatakan, “Semua orang, termasuk Korea Utara, tahu bahwa membunuhnya adalah bagian dari rencana perang.”
Memang, Amerika mungkin perlu mengerahkan kekuatan yang lebih besar dibandingkan sekitar 150 pesawat dan beberapa ratus pasukan, termasuk pasukan elite Delta Force, yang digunakan untuk menangkap Maduro.
Namun Kim sadar bahwa dirinya, keluarganya, dan lingkaran terdekatnya bisa saja diseret ke dalam helikopter menuju kapal perang AS jauh sebelum Rusia dan China sempat bereaksi untuk membantu militer Korea Utara yang kekurangan logistik, kurang terlatih, dan tidak siap memberikan perlindungan instan kepada pemimpinnya.
Jika menangkap Kim terdengar seperti misi mustahil, perlu diingat bahwa ia sering tampil di depan publik, meninjau proyek industri dan pertanian, memeriksa pasukan, hingga menghadiri upacara resmi. Ia juga kerap muncul dalam peluncuran rudal, yang justru bisa menjadi momen paling ideal untuk menangkapnya saat ia sibuk berpose menekan tombol peluncuran.
Amerika Serikat pun sangat memahami apa yang diperlukan untuk menargetkan Kim. Pasukan AS telah berlatih selama bertahun-tahun untuk skenario tersebut. Latihan militer tahunan AS–Korea Selatan sebelumnya bahkan kerap ditutup dengan simulasi “decapitation” terhadap “pemimpin Korea Utara”, meski tanpa menyebut nama Kim secara langsung.
Tonton: Profil Evan Spiegel: Pendiri Snapchat, Sukses Mengubah Tren Media Sosial
Komando militer AS di Korea sempat menghilangkan istilah “decapitation” demi menghormati Korea Selatan, yang menilai bahasa tersebut tidak membantu upaya dialog dengan Pyongyang. Namun, istilah itu kembali mengemuka setelah penangkapan Maduro, sekaligus memunculkan pertanyaan di Pyongyang: siapa target berikutnya dalam daftar Amerika?
Sejumlah media internasional menyoroti dampaknya. South China Morning Post menulis bahwa Kim diperkirakan akan semakin bergantung pada “selimut pengaman nuklir” setelah kasus Venezuela. Media lain menyebut operasi “decapitation” AS terhadap Venezuela justru akan memperkuat ambisi nuklir Korea Utara.
Ancaman ini seharusnya mendorong Trump untuk bertindak cepat menyingkirkan sosok yang selama bertahun-tahun dianggap mengganggu stabilitas kawasan, sosok yang gemar melontarkan ancaman kehancuran nuklir sementara rakyatnya sendiri menderita kelaparan dan penyakit.
Unjuk kekuatan lewat penerbangan pembom berat AS nyaris tidak banyak mengubah ancaman yang ditimbulkan musuh-musuh Amerika. Kim tahu ia bisa menertawakan manuver udara semacam itu, atau bahkan pertemuan sia-sia lainnya dengan Trump.
Ancaman penangkapan ala Maduro jauh lebih efektif. Ketakutan terbesar Kim adalah Amerika, setelah bertahun-tahun melatih skenario “pemenggalan kepemimpinan”, akhirnya memutuskan untuk benar-benar melaksanakannya, membungkam sosok yang dianggap teroris utama Asia secepat saat mereka menyeret Maduro dan istrinya ke penjara di New York.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
