kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

Pasar Private Equity Asia Tenggara Lesu, Transaksi Exit Turun 32% pada 2025


Jumat, 24 April 2026 / 18:54 WIB
Pasar Private Equity Asia Tenggara Lesu, Transaksi Exit Turun 32% pada 2025
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei Jepang (REUTERS/Issei Kato)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pasar private equity (PE) di Asia Tenggara masih menghadapi tekanan yang berkepanjangan pada sisi exit alias penjualan investasi, meskipun terdapat tanda-tanda pemulihan selektif dalam aktivitas transaksi pada 2025.

Dalam laporan Bain & Company bertajuk Southeast Asia Private Equity Report 2026, nilai transaksi PE di kawasan ini tercatat turun sekitar 10% secara tahunan menjadi sekitar US$ 14 miliar dari 84 transaksi.

Aktivitas investasi masih didominasi oleh transaksi growth dan buyout, namun pemulihan yang terjadi bersifat tidak merata. Nilai transaksi terkonsentrasi pada sejumlah kecil deal berukuran besar, sejalan dengan tren di kawasan Asia Pasifik.

Baca Juga: Italia Menolak Keras! Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia Picu Kontroversi

Investor juga semakin selektif, dengan fokus pada aset berkualitas tinggi yang memiliki manajemen kuat, keunggulan kompetitif jelas, serta jalur exit yang terukur.

Salah satu tantangan terbesar adalah melemahnya aktivitas exit. Nilai exit turun 32% pada 2025, dengan penjualan strategis (trade sale) masih menjadi jalur utama, sementara aktivitas IPO menunjukkan tanda-tanda pemulihan awal.

Akibat periode kepemilikan yang semakin panjang, jumlah aset “aging” meningkat, sehingga transaksi pasar sekunder menjadi semakin penting untuk menyediakan likuiditas.

“Pasar private equity Asia Tenggara sedang stabil, tetapi pemulihannya sempit dan sangat dipengaruhi keterbatasan exit,” kata Tom Kidd.

Dengan terbatasnya exit, penciptaan nilai operasional kini menjadi pendorong utama imbal hasil. Investor lebih mengandalkan pertumbuhan EBITDA melalui efisiensi biaya, strategi harga, dan penguatan komersial, dibandingkan ekspansi valuasi.

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) juga mulai meningkat dalam proses due diligence dan manajemen portofolio, dengan lebih dari 70% investor melaporkan pemanfaatannya, meskipun dampaknya masih pada tahap awal.

Aliran investasi di kawasan ini kini lebih banyak mengikuti tema pertumbuhan struktural, seperti infrastruktur digital dan AI, termasuk pusat data. Sektor kesehatan, dengan kenaikan nilai transaksi sekitar 60% dalam lima tahun terakhir. Manufaktur dan industri, terdorong relokasi rantai pasok China+1 ke Vietnam dan Indonesia. Jasa keuangan, terutama fintech serta sektor konsumer yang bergeser ke produk lokal dan berbasis nilai

Baca Juga: Pasar Global Bergejolak, Minyak Melonjak di Tengah Kebuntuan AS–Iran

Singapura tetap menjadi pusat utama transaksi dengan nilai sekitar US$ 7 miliar, sementara Malaysia mencatat kenaikan tertinggi secara tahunan dengan US$ 5,3 miliar. Sebaliknya, Vietnam melaporkan nol aktivitas exit, mencerminkan tantangan likuiditas di pasar.

Secara keseluruhan, investor di kawasan Asia Pasifik masih menghadapi tekanan serupa: proses fundraising yang ketat, ketidakpastian makroekonomi, serta keterbatasan aset berkualitas.

“Keberhasilan kini bergantung pada strategi investasi yang jelas, keahlian sektoral, dan kemampuan operasional yang kuat,” kata Suvir Varma.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×