kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45974,33   -17,61   -1.78%
  • EMAS991.000 0,71%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

PBB akan mengumpulkan US$ 41 miliar untuk atasi konflik dan kemiskinan di tahun 2022


Kamis, 02 Desember 2021 / 14:27 WIB
PBB akan mengumpulkan US$ 41 miliar untuk atasi konflik dan kemiskinan di tahun 2022
ILUSTRASI. Seorang anak laki-laki menjual makanan di sebuah taman di Kabul, Afghanistan, 22 Oktober 2021.


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. PBB berharap bisa mengumpulkan dana hingga US$ 41 miliar di tahun 2022 untuk membantu ratusan juta penduduk yang terdampak konflik dan merasakan kemiskinan. Afghanistan dan beberapa negara Afrika akan menjadi fokus PBB dalam mengalokasikan bantuan.

Dilansir dari Reuters, PBB berencana memberikan bantuan tersebut kepada 183 juta orang di seluruh dunia yang terjebak dalam konflik dan kemiskinan. 

Dalam laporannya, badan bantuan PBB mencatat bahwa kelaparan masih menjadi ancaman bagi 45 juta orang yang tinggal di 43 negara. Cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim menyusutkan persediaan makanan. Berdasarkan data tersebut, PBB menilai ada kenaikan hingga 17% dalam kebutuhan pangan tahunan.

"Pemicu kondisi ini adalah sesuatu yang akrab dengan kita Ironisnya, semua pemicu bukan hal baru, termasuk konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, ekonomi yang gagal, dan krisis iklim, dan tentu saja pandemi Covid-19," ungkap Kepala bantuan PBB Martin Griffith.

Badan bantuan PBB telah menyebarkan laporan kepada para donor terkait kebutuhan dana besar untuk tahun depan. PBB mengungkap bahwa tanpa tindakan berkelanjutan dan segera, 2022 bisa menjadi bencana besar.

Baca Juga: Sekjen PBB: Pembatasan perjalanan internasional tidak adil dan tidak efektif

Fokus pada Afghanistan dan Afrika

Afghanistan, Suriah, Yaman, Ethiopia, dan Sudan adalah lima kawasan yang membutuhkan dana paling banyak. Afghanistan sendiri membutuhkan sekitar US$ 4,5 miliar yang kebutuhannya semakin meroket sejak dikuasai Taliban.

Ada lebih dari 24 juta orang di Afghanistan yang membutuhkan bantuan penyelamatan jiwa. Tingginya jumlah tersebut didorong oleh gejolak politik, guncangan ekonomi yang berulang, dan kerawanan pangan parah yang disebabkan oleh kekeringan terburuk dalam 27 tahun.

Baca Juga: Miris, UNDP prediksi sistem keuangan Afghanistan runtuh dalam beberapa bulan




TERBARU

[X]
×