kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

PBB mengutuk keras pernikahan anak di Zimbabwe


Senin, 09 Agustus 2021 / 10:45 WIB
PBB mengutuk keras pernikahan anak di Zimbabwe
ILUSTRASI.


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - HARARE. PBB menyoroti maraknya pernikahan anak di Zimbabwe setelah seorang gadis berusia 14 tahun meninggal setelah dia melahirkan.

Tidak hanya PBB, kejadian ini turut memicu kemarahan di kalangan warga dan aktivis hak asasi manusia di berbagai belahan dunia.

Dilansir dari Reuters, kasus ini akhirnya menguak praktik pernikahan anak di dalam gereja-gereja apostolik Zimbabwe, yang juga membolehkan poligami.

Zimbabwe memiliki dua perangkat hukum yang mengatur soal pernikahan warganya, masing-masing adalah Undang-Undang Perkawinan dan Undang-Undang Perkawinan Adat.

Namun, tidak ada satu pun undang-undang tersebut yang mengatur batasan usia minimum untuk menikah. Hukum adat pun membolehkan poligami.

Saat ini ada RUU baru yang diajukan ke parlemen untuk menetapkan batas usia pernikahan. Jika disetujui, Zimbabwe akan melarang pernikahan siapa pun di bawah 18 tahun dan menuntut siapa pun yang terlibat dalam pernikahan anak di bawah umur.

Baca Juga: Lapor ke PBB, Inggris ngotot ada Iran di balik penyerangan kapal tanker Israel

Perwakilan PBB di Zimbabwe menyatakan prihatin atas meninggalnya Memory Machaya, gadis 14 tahun dari pedesaan Marange, yang meninggal setelah melahirkan.

"Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam dan mengutuk keras kejadian ini," ungkap PBB dalam pernyataannya, tertanggal 7 Agustus.

Lebih lanjut, PBB juga menyayangkan bahwa laporan tentang pelanggaran seksual terhadap gadis di bawah umur, termasuk kawin paksa anak terus muncul.

PBB menilai bahwa satu dari tiga gadis di Zimbabwe kemungkinan akan menikah sebelum menginjak usia 18 tahun.

Media lokal telah melaporkan bahwa Memory meninggal bulan lalu tetapi kasus itu baru terungkap minggu lalu setelah kerabat yang dilarang oleh keamanan gereja untuk menghadiri pemakamannya, menceritakan kisah mereka kepada pers milik negara.

Gereja-gereja apostolik, yang menghindari rumah sakit, menarik jutaan pengikut dengan janji mereka untuk menyembuhkan penyakit dan membebaskan orang dari kemiskinan.

Selanjutnya: Krisis ekonomi berlanjut, penduduk Lebanon semakin jauh dari pasokan air bersih




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×