Sumber: Forbes | Editor: Noverius Laoli
Ketiga, ketahanan bukan hanya soal memaksa diri bertahan, tetapi juga berani beradaptasi. “Terkadang tembok itu tidak akan bergerak, dan di situlah kita perlu keberanian untuk mencoba pendekatan lain,” ujarnya.
Keempat, eksperimen membangun kepercayaan diri. Kendra menilai pemimpin harus memberi contoh dalam mencoba hal baru. Banyak inisiatif besar, kata dia, berawal dari percobaan yang belum tentu berhasil.
Baca Juga: Kredit Macet Perbankan Tetap Perlu Diantisipasi, Ada NPL Yang Sentuh 10%
Kelima, keberanian berarti siap menghadapi kegagalan. Ia mencontohkan pengalamannya berbicara dengan putrinya yang berusia 16 tahun tentang rasa takut akan rasa malu. “Apa yang terasa kecil bagi kita, bisa menjadi langkah besar bagi orang lain,” ujarnya.
Keenam, membangun tim yang beragam membutuhkan keberanian lebih besar. Menurut Kendra, keberagaman akan menantang cara berpikir pemimpin, tetapi sangat penting untuk mencapai ambisi besar.
“Saya merasakannya saat bekerja di Asia dan saat berkolaborasi dengan komunitas adat di Kanada. Itu menuntut kerendahan hati dan kesediaan untuk belajar,” katanya.
Dalam perannya saat ini, Kendra mendampingi para pemimpin yang tengah membangun sesuatu yang baru dan mengambil risiko. Ia menyadari tidak semua upaya berakhir sukses, tetapi keberanian untuk bangkit dan mencoba kembali adalah inti kepemimpinan sejati.
Baca Juga: Risiko UMKM Meninggi, Urun Dana Perkuat Mitigasi
“Kepemimpinan berani bukan tentang tidak punya rasa takut, tetapi tentang memilih untuk memimpin meski hasilnya belum pasti,” ujarnya.
Kendra pun menutup refleksinya dengan sebuah pertanyaan yang menurutnya penting bagi setiap pemimpin. “Tantangan apa yang sedang Anda hadapi saat ini dan membutuhkan keberanian Anda?” katanya.













