kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,11   -0,67   -0.07%
  • EMAS942.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.31%
  • RD.CAMPURAN 0.18%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.05%

Pengadilan Thailand menyetujui permohonan restrukturisasi Thai Airways


Senin, 14 September 2020 / 13:38 WIB
Pengadilan Thailand menyetujui permohonan restrukturisasi Thai Airways
ILUSTRASI. Pesawat Thai Airways


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Hakim Pengadilan Kebangkrutan Pusat Thailand Kampol Roongrat mengatakan pengadilan menyetujui permintaan Thai Airways International Pcl untuk merestrukturisasi utangnya sebagai bagian dari proses kebangkrutan.

Mengutip Reuters, Senin (14/9), keputusan pengadilan akan memungkinkan maskapai untuk melanjutkan rencana restrukturisasi utang senilai 245 miliar baht (US$ 7,83 miliar), dimana prosesnya memakan waktu tiga bulan hingga lima bulan.

Keputusan itu diambil karena dampak virus corona telah menambah kesengsaraan maskapai penerbangan yang berjuang sejak tahun 2012.

"Lebih dari setengah kreditur mendukung restrukturisasi," kata penjabat presiden maskapai Chansin Treenuchagron kepada wartawan.

Baca Juga: Thai Airways Akan Dilaporkan Bangkrut, Pemerintah Percepat Langkah Penyelamatan

"Kami akan bernegosiasi dengan kreditur pada kuartal ini dan rencananya akan siap pada kuartal pertama tahun depan."

Setelah tiga kali dengar pendapat, beberapa kreditur menarik penentangan mereka terhadap restrukturisasi setelah negosiasi dengan maskapai penerbangan.

Setelah rencana restrukturisasi disetujui oleh kreditur dan pengadilan, komite lain akan dibentuk untuk melaksanakannya dalam proses yang bisa memakan waktu hingga 7 tahun, kata maskapai itu sebelumnya.

Bahkan sebelum virus corona menyebabkan penghentian penerbangan di seluruh dunia, Thai Airways berada dalam kesulitan.

Maskapai ini membukukan kerugian setiap tahun setelah 2012, kecuali pada 2016 dan melaporkan kerugian 12,04 miliar baht pada 2019.

Pengadilan pada bulan Mei menerima permintaan maskapai penerbangan untuk perlindungan kebangkrutan, memberikannya penangguhan utang. 

Pemerintah Thailand kemudian mengurangi kepemilikannya di maskapai penerbangan menjadi 47,86%, mengakhiri status perusahaan sebagai perusahaan negara.

Pekan lalu, Singapore Airlines Ltd mengatakan akan memangkas 4.300 posisi, atau sekitar 20% dari stafnya, karena dampak pandemi virus corona.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional memperkirakan dibutuhkan waktu hingga 2024 bagi lalu lintas penumpang global untuk kembali ke tingkat sebelum pandemi.

Selanjutnya: Maskapai nasional terancam bangkrut, INACA: Itu mungkin saja terjadi

 




Corporate Valuation Model Managing Procurement Economies of Scale Batch 5

[X]
×