Pengamat PBB: Korea Utara Gunakan Kejahatan Siber untuk Mendanai Program Senjata

Minggu, 24 April 2022 | 03:15 WIB Sumber: Yonhap,Yonhap
Pengamat PBB: Korea Utara Gunakan Kejahatan Siber untuk Mendanai Program Senjata


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pengamat PBB pada hari Rabu (20/4) mengungkap bahwa Korea Utara telah menumpuk uang melalui kejahatan siber untuk mendanai serangkaian program militernya.

Koordinator Panel Ahli tentang sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara, Eric Penton-Voak, juga mengatakan aktor dunia maya Korea Utara memiliki kemampuan yang sangat baik dan tidak bisa diremehkan.

"Pada dasarnya kemampuan Korea Utara untuk terus mengembangkan senjata pemusnah massal bergantung pada tiga hal, pengetahuan, peralatan dan produk khusus, serta uang," kata Penton-Voak, seperti dikutip Yonhap.

Baca Juga: Parade Militer Terbaru Korea Utara Diprediksi Libatkan Hingga 20.000 Tentara

Penton-Voak mencatat bahwa Korea Utara terus menghindari sanksi Dewan Keamanan PBB agar bisa mendapatkan bahan untuk senjatanya melalui jaringan perwakilan perdagangan global yang canggih dengan status diplomatik.

Ia menyebut Korea Utara semakin bergantung pada aktivitas dunia maya untuk mendapatkan pendapatan ilegal sejak 2017. Peretas Korea Utara yang dikenal sebagai Lazarus baru-baru ini diketahui terlibat dalam peretasan kripto senilai US$625 juta terhadap Axie Infinity.

Dalam laporan dua tahunannya kepada Dewan Keamanan PBB terkait sanksi Korea Utara awal bulan ini, Panel Pakar PBB mengatakan bahwa Korea Utara mungkin telah mencuri cryptocurrency senilai US$400 juta di sepanjang tahun 2021.

Baca Juga: Korea Utara Berhasil Uji Coba Senjata Baru, Diduga Terkait Nuklir

Penton-Voak menekankan setidaknya sebagian dari pendapatan gelap Korea Utara digunakan untuk membiayai program nuklir dan rudal balistiknya.

Keberhasilan Korea Utara di dunia maya dibuktikan oleh semakin tingginya uji coba rudal dalam beberapa bulan terakhir. Korea Utara tercatat telah melakukan lebih dari selusin uji coba rudal sejak akhir tahun lalu.

Atas dasar itu, Penton-Voak menekankan perlunya regulasi yang kuat untuk melindungi dunia maya. Dia juga menyoroti perlunya negara-negara, terutama AS dan Korea Selatan, untuk bekerja sama dalam hal ini.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru