kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Perkuat Ambisi Nuklir Kim Jong Un


Senin, 02 Maret 2026 / 16:01 WIB
Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Perkuat Ambisi Nuklir Kim Jong Un


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dinilai berpotensi memperkuat ambisi nuklir pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Sejumlah pakar dan mantan pejabat menilai perkembangan ini dapat memengaruhi sikap Pyongyang terhadap kemungkinan kembali ke meja perundingan dengan Presiden AS Donald Trump.

Pembicaraan mengenai program senjata nuklir dan rudal balistik Korea Utara — yang selama ini berada di bawah sanksi internasional ketat — sempat mengalami kebuntuan meskipun telah digelar pertemuan puncak antara Kim dan Trump pada 2018 dan 2019.

Namun, serangan terhadap Iran dipandang dapat mendorong kalkulasi strategis baru di Pyongyang.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan terjadi hanya dua bulan setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro — yang juga tidak memiliki penangkal nuklir — ditangkap dalam operasi pasukan khusus AS.

Baca Juga: Trump Isyaratkan Konflik Dengan Iran Bisa Berlangsung Selama Empat Minggu

Menurut Song Seong-jong dari Daejeon University, Kim kemungkinan melihat Iran diserang karena tidak memiliki senjata nuklir.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut operasi militer tersebut sebagai konsekuensi dari sifat “hegemonik” Amerika Serikat.

Beberapa hari sebelum serangan, Kim berjanji memperkuat arsenal nuklir negaranya dalam kongres partai, meski tetap membuka peluang dialog tergantung pada sikap Washington.

Kantor berita pemerintah KCNA mengutip pernyataan Kim yang menyebut hubungan baik dengan AS mungkin terjadi jika kebijakan konfrontatif dihentikan.

Trump sendiri berulang kali menyatakan keinginan untuk menggelar pembicaraan baru, memicu spekulasi kemungkinan pertemuan kembali.

Doktrin Serangan Pendahuluan

Leif-Eric Easley dari Ewha Womans University menilai pesan dari pemerintahan Trump kepada negara-negara yang dianggap bermusuhan cukup jelas: hentikan ancaman dan capai kesepakatan sebelum terlambat.

Baca Juga: Trump Ancam Iran Jika Balas Dendam, AS Siap Kerahkan Kekuatan Terbesarnya

Meski demikian, Korea Utara dinilai jauh lebih maju dibanding Iran dalam pengembangan hulu ledak nuklir dan sistem pengiriman, termasuk rudal balistik antarbenua.

Sejak 2022, Pyongyang bahkan telah mengesahkan hukum yang melegitimasi penggunaan serangan nuklir pendahuluan, menjadikan status nuklirnya “tidak dapat diubah”.

Menurut Sydney Seiler dari Center for Strategic and International Studies, pembicaraan dengan AS bukan prioritas utama Kim. Namun, ancaman militer dari Trump bisa membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil langkah diplomatik.

Sebaliknya, sejumlah analis menilai persepsi ancaman yang meningkat justru bisa mendorong Kim kembali ke meja negosiasi.

Cho Han-bum dari Korea Institute for National Unification menilai denuklirisasi Korea Utara hampir mustahil, mengingat fasilitas nuklirnya tersebar luas.

Berdasarkan estimasi Stockholm International Peace Research Institute, Korea Utara memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir dan cukup material fisil untuk memproduksi hingga 40 unit tambahan.

Baca Juga: Donald Trump Umumkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Telah Meninggal

Peluang Dialog Masih Terbuka

Yang Moo-jin dari University of North Korean Studies menyebut Kim mungkin memanfaatkan hubungan personalnya dengan Trump untuk mengeksplorasi posisi Washington, sembari membeli waktu guna memperkuat kemampuan nuklir.

Nam Sung-wook dari Sookmyung Women's University menambahkan bahwa pertemuan bersyarat dapat terjadi jika AS mengakui status nuklir Korea Utara.

Di sisi lain, hubungan Kim dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin diyakini memberi rasa perlindungan strategis.

Meski demikian, beberapa pengamat menilai Kim tetap memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas hubungan dengan Washington.

“Insiden di Iran kemungkinan membuatnya berpikir bahwa hubungan dengan Amerika Serikat perlu dikelola dengan lebih hati-hati,” ujar Ko Young-hwan, mantan diplomat Korea Utara yang kini menjadi pembelot.




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×