Pentagon dan Produsen Senjata AS Berembuk Soal Rantai Pasok dan Tenaga Kerja

Jumat, 04 November 2022 | 20:09 WIB Sumber: Reuters
Pentagon dan Produsen Senjata AS Berembuk Soal Rantai Pasok dan Tenaga Kerja

ILUSTRASI. Gedung Pentagon terlihat di Arlington, Virginia, AS.


KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Para pemimpin Pentagon berencana bertemu dengan para eksekutif perusahaan pertahanan pada pekan depan. Mereka akan membahas cara-cara mengatasi masalah dalam rantai pasokan alat pertahanan di tengah lonjakan permintaan senjata dari sekutu Amerika Serikat (AS) akibat invasi Rusia ke Ukraina.

Wakil Menteri Pertahanan Kath Hicks akan menjadi tuan rumah pertemuan dengan para kontraktor pertahanan AS. Mereka akan membahas strategi pertahanan nasional, mengamankan rantai pasokan dan menopang basis industri pertahanan termasuk tantangan tenaga kerja.

Juru Bicara Pentagon Eric Pahon mengatakan hal tersebut kepada Reuters pada awal pekan ini.

Baca Juga: Siap-siap China Marah, AS Pertimbangkan Produksi Senjata Bersama dengan Taiwan

Lonjakan pesanan alat persenjataan terhadap industri senjata AS berasal dari negara-negara Eropa seperti Jerman dan Polandia.

Sebelumnya telah terjadi pertemuan antara pejabat Pentagon dengan eksekutif pembuat senjata terkemuka AS seperti Lockheed Martin Corp, Raytheon Technologies Corp dan General Dynamics Corp. Mereka fokus membahas persediaan senjata untuk Ukraina dan pengembangan senjata hipersonik.

Saat ini produsen senjata utama AS masih berkutat dengan ketatnya persaingan tenaga kerja dan masalah rantai pasok sisa peninggalan pandemi Covid-19. Para pembeli ini khawatir terlambatnya pengiriman pasokan senjata yang mereka pesan akibat masalah rantai pasok ini.

"Kami telah mendengar kekhawatiran dari industri mengenai tantangan rantai pasokan dan masalah tenaga kerja dan kami membagikannya," kata kepala pembeli senjata Pentagon, Bill LaPlante, kepada Reuters dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Presiden Putin Perintahkan Pemanggilan Pasukan Cadangan Rusia Selesai dalam 2 Pekan

Masalah rantai pasokan terkait pandemi masih merugikan kontraktor pertahanan karena komponen dan bahan gagal tiba tepat waktu, yang menunda produksi dan akhirnya pembayaran.

Pentagon merencanakan US$ 500 juta dalam program pelatihan dan retensi tenaga kerja ditambah dengan lebih dari US$ 2 miliar dalam investasi rantai pasokan di tahun-tahun mendatang sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi masalah tersebut.

Tetapi invasi Rusia ke Ukraina telah mendorong negara-negara seperti Amerika Serikat dan Jerman untuk meningkatkan anggaran belanja pertahanan mereka ke tingkat rekor.

Editor: Noverius Laoli

Terbaru