Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak global memberikan keuntungan besar bagi sejumlah negara produsen energi seperti Iran, Oman, dan Arab Saudi. Namun di sisi lain, negara yang tidak memiliki jalur ekspor alternatif justru mengalami kerugian hingga miliaran dolar, menurut analisis Reuters.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair (LNG) global, ditutup oleh Iran setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari memicu eskalasi konflik. Meski Iran kemudian mengizinkan kapal tanpa keterkaitan dengan AS atau Israel untuk melintas, gangguan pasar energi tetap terjadi secara signifikan.
Harga minyak mentah global jenis Brent melonjak hingga 60% sepanjang Maret—kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah. Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Teheran jika jalur pelayaran tidak segera dibuka kembali.
Faktor Geografi Tentukan Untung-Rugi
Dampak lonjakan harga energi sangat dipengaruhi oleh faktor geografis. Negara-negara seperti Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab memiliki jalur alternatif dan pelabuhan yang memungkinkan ekspor tetap berjalan tanpa melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Misi Artemis II Catat Sejarah, Astronaut Capai Jarak Terjauh dari Bumi
Sebaliknya, negara seperti Irak, Kuwait, dan Qatar mengalami hambatan besar karena bergantung penuh pada selat tersebut untuk ekspor energi.
Data ekspor Maret menunjukkan pendapatan minyak Irak dan Kuwait anjlok sekitar tiga perempat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan Iran justru meningkat 37% dan Oman naik 26%. Pendapatan Arab Saudi juga meningkat 4,3%, meskipun volume ekspor turun.
Dampak bagi Arab Saudi
Bagi Arab Saudi, lonjakan harga minyak berarti peningkatan royalti dan pajak dari raksasa energi nasional Saudi Aramco. Kenaikan ini menjadi kabar positif di tengah tekanan anggaran akibat belanja besar untuk diversifikasi ekonomi.
Arab Saudi juga diuntungkan oleh keberadaan pipa East-West sepanjang 1.200 km yang menghubungkan ladang minyak di timur ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Infrastruktur ini memungkinkan ekspor minyak tetap berjalan tanpa bergantung pada Selat Hormuz.
Risiko dan Kerentanan Tetap Ada
Meski memiliki jalur alternatif, Arab Saudi tetap menghadapi risiko serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk dari kelompok Houthi di Yaman. Selain itu, jalur pelayaran lain seperti Selat Bab el-Mandeb juga menjadi titik rawan gangguan.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab memanfaatkan pipa Habshan-Fujairah untuk menghindari Selat Hormuz, meskipun tetap mengalami penurunan nilai ekspor akibat gangguan operasional di pelabuhan Fujairah.
Baca Juga: Bos JPMorgan Chase Peringatkan Perang Iran Picu Lonjakan Inflasi dan Suku Bunga
Irak dan Kuwait Paling Terpukul
Irak menjadi negara dengan penurunan pendapatan terbesar, anjlok hingga 76% menjadi sekitar US$1,73 miliar. Kuwait menyusul dengan penurunan 73% menjadi US$864 juta.
Kedua negara diperkirakan akan mengalami penurunan lebih dalam pada April karena sebagian ekspor Maret masih terbantu oleh pengiriman di awal konflik sebelum penutupan selat sepenuhnya berdampak.
Dampak Global dan Arah Energi
International Energy Agency menyebut konflik ini sebagai guncangan pasokan energi terbesar di dunia, dengan lebih dari 12 juta barel per hari produksi terdampak dan sekitar 40 fasilitas energi mengalami kerusakan.
Di tengah krisis ini, muncul dorongan untuk mempercepat investasi energi alternatif. TotalEnergies bersama perusahaan energi terbarukan Masdar bahkan mengumumkan investasi senilai US$2,2 miliar untuk pengembangan energi bersih di sembilan negara Asia.
Analis menilai, meskipun beberapa negara menikmati lonjakan pendapatan jangka pendek, krisis ini memperlihatkan kerentanan sistem energi global terhadap gangguan geopolitik. Dalam jangka panjang, percepatan transisi ke energi terbarukan dinilai menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur distribusi yang rentan seperti Selat Hormuz.













