Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah dunia naik pada Senin (17/8/2026), karena kurangnya kemajuan dalam upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah, meskipun tidak adanya gangguan pasokan besar membatasi kenaikan tersebut.
Senin (17/8/2026), harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 92 sen, atau 1,04%, menjadi US$ 89,44 pada pukul 10.02 GMT setelah sempat mencapai level tertinggi di level US$ 89,68.
Harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 55 sen atau 0,67% menjadi US$ 82,95 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat kenaikan lebih dari 5% pada pekan lalu menyusul serangan terhadap kapal tanker yang dioperasikan oleh Abu Dhabi National Oil Company di Selat Hormuz dan terhadap kilang Saudi Aramco.
Namun, Bjarne Schieldrop dari SEB Research mengatakan, harga minyak kemungkinan tidak akan naik secara signifikan kecuali terjadi penghentian arus keluar minyak mentah melalui Selat Hormuz pada malam hari dan atau penutupan Selat Bab el-Mandeb.
Untuk saat ini, harga diperdagangkan mendekati level US$ 90 sementara para pedagang menimbang risiko gangguan dan kekurangan pasokan yang lebih parah terhadap kemungkinan penyelesaian konflik—di mana Selat Hormuz dibuka kembali dan harga minyak turun tajam, kata Schieldrop.
Baca Juga: Bahas Gaza, Menantu Trump Temui Netanyahu Usai Pertemuan Langka dengan Hamas
Selama akhir pekan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran belum memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS). Sementara Presiden AS Donald Trump mendesak warga Amerika untuk menerima harga bensin yang sedikit lebih tinggi selama konflik berlangsung.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa pembicaraan dengan Oman masih terus berlangsung dan memakan waktu lama karena kompleksitas masalah tersebut, serta keterlibatan berbagai pihak dan negara yang berupaya menggagalkan proses itu.
"Pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas dan negosiasi mengalami jalan buntu; kedua hal ini membatasi potensi penurunan lebih lanjut," ujar Frank Walbaum, analis pasar di platform perdagangan Naga.com.
"Tanpa adanya katalis baru, harga minyak kemungkinan akan terus berkonsolidasi di sekitar tingkat saat ini," imbuhnya.
Data yang dirilis pada hari Senin menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz melambat selama akhir pekan menyusul serangan terhadap sejumlah kapal tanker. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan bahwa lima kapal pengangkut komoditas melintasi selat tersebut pada hari Sabtu—dengan tidak ada satu pun kapal yang tercatat melintas pada hari Minggu—dibandingkan dengan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Baca Juga: Iran Larang Dua Staf Kedutaan Prancis Kembali ke Tehran, Ada Apa?
Sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, selat tersebut menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Sementara itu, sumber-sumber perdagangan pada hari Senin mengungkapkan bahwa ADNOC telah menjual setidaknya 14 juta barel minyak mentah pasar spot kepada perusahaan penyulingan di Asia dengan harga premium dalam tender terbarunya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
