Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Permintaan sistem panel surya atap di kawasan Eropa melonjak tajam sejak pecahnya konflik Iran, seiring rumah tangga berlomba mencari perlindungan dari lonjakan harga listrik akibat gangguan energi global terbesar dalam sejarah.
Konflik tersebut mendorong kenaikan signifikan harga minyak, gas, dan listrik, yang berdampak luas bagi perusahaan maupun konsumen. Kondisi ini mempercepat upaya mencari alternatif energi yang lebih murah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar energi yang volatil.
Energi surya menjadi salah satu solusi utama. Berdasarkan wawancara dengan sejumlah distributor peralatan energi dan perusahaan utilitas di Jerman, Inggris, dan Belanda, permintaan dari pemilik rumah untuk sistem tenaga surya bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Padahal, teknologi ini telah menyumbang sekitar sepertiga kapasitas listrik di Eropa, namun sempat mengalami perlambatan instalasi baru pada tahun lalu—pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Para pelaku industri menilai kawasan tersebut masih perlu mempercepat transisi energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan gas.
Baca Juga: S&P Global Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak 2026 Sebesar 700.000 bph
Janik Nolden, salah satu pendiri Solarhandel24, menyebut konflik ini hanya memperjelas masalah lama. “Perang ini hanya mengungkap persoalan yang sudah ada sejak lama: ketergantungan energi,” ujarnya.
Lonjakan Penjualan dan Ekspansi Industri
Solarhandel24 mencatat lonjakan penjualan bersih lebih dari tiga kali lipat pada Maret menjadi hampir 70 juta euro dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perusahaan tersebut memperkirakan angka itu kembali meningkat pada April dan berencana menambah sekitar 85 karyawan untuk memenuhi permintaan.
Untuk menjaga pasokan, Solarhandel24 telah menimbun sekitar 500.000 panel surya dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini dinilai strategis untuk mendukung target peningkatan penjualan hingga 400 juta euro pada 2026, dari sekitar 250 juta euro pada tahun sebelumnya.
Tren serupa juga dialami perusahaan energi Jerman, Enpal. Perusahaan tersebut melaporkan kenaikan pesanan sebesar 30% secara tahunan pada Maret menjadi 130 juta euro, dan diperkirakan meningkat lagi pada April.
CEO Enpal, Mario Kohle, menilai fenomena ini sebagai bagian dari upaya ketahanan energi Eropa. “Ini tentang ketahanan Eropa. Sama seperti kita harus mampu mempertahankan diri, kita juga harus mampu memasok energi sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Wabah Flu Burung: China Larang Impor Unggas dari Chili
Dorongan Teknologi Penyimpanan Energi
Peningkatan permintaan tidak hanya terjadi pada panel surya, tetapi juga pada sistem penyimpanan energi. Konsumen kini cenderung memilih paket lengkap yang mencakup panel surya, baterai, dan fasilitas pengisian kendaraan listrik, sehingga kelebihan energi dapat disimpan dan digunakan kembali.
Menurut asosiasi energi Belanda Holland Solar, permintaan teknologi penyimpanan energi meningkat sekitar 40% hingga 50%.
Filip Thon dari E.ON juga menyatakan bahwa permintaan pelanggan hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Ia menegaskan bahwa lonjakan ini tidak semata dipengaruhi faktor musiman.
Perubahan Struktural di Sektor Energi
Beberapa pelaku industri menilai lonjakan permintaan ini berpotensi menjadi perubahan struktural jangka panjang, terutama dengan adanya kebijakan baru energi terbarukan di Jerman.
Sebelumnya, laju instalasi panel surya di Eropa sempat melambat pada 2025 akibat menurunnya permintaan sektor rumah tangga setelah berakhirnya berbagai skema subsidi, menurut SolarPower Europe.
Namun, saham perusahaan seperti SMA Solar Technology justru melonjak sekitar 50% sejak konflik dimulai, mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek energi terbarukan.
Ed Janvrin dari OVO Energy menyebut lonjakan ini sebagai tren jangka panjang yang dipercepat oleh kondisi geopolitik. Penjualan pada April bahkan mencapai sekitar 10 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Utusan Trump Usul Italia Gantikan Iran di Piala Dunia, Picu Polemik!
Tantangan dari Overkapasitas Global
Di sisi lain, produsen panel surya dari China menyatakan bahwa lonjakan permintaan global kemungkinan tidak akan cukup untuk mengatasi kelebihan kapasitas produksi. Saat ini, kapasitas manufaktur China saja mampu memenuhi hampir dua kali lipat kebutuhan global tahun ini.
Meski demikian, lonjakan permintaan ini menegaskan bahwa krisis geopolitik dapat secara cepat meningkatkan nilai strategis energi terbarukan.
Jannik Schall, pendiri perusahaan energi terbarukan Jerman 1Komma5Grad, menilai krisis energi yang berulang semakin membuktikan pentingnya sektor energi bersih. “Krisis energi yang terus berulang membuktikan bahwa sektor energi terbarukan berada di jalur yang benar,” ujarnya.













