kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.005   -3,00   -0,02%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Perang Iran Picu Retaknya NATO, Ancaman Penarikan AS Kian Nyata


Jumat, 03 April 2026 / 13:44 WIB
Perang Iran Picu Retaknya NATO, Ancaman Penarikan AS Kian Nyata
ILUSTRASI. Konflik Timur Tengah guncang fondasi NATO, Trump ancam tarik AS. Keamanan Eropa di ujung tanduk. Cari tahu apa yang terjadi di balik krisis ini. (REUTERS/Evan Vucci)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aliansi NATO menghadapi tekanan serius yang dinilai sebagai salah satu krisis terdalam sejak berdiri 76 tahun lalu. Konflik antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran disebut menjadi pemicu utama yang mengguncang fondasi aliansi pertahanan tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, NATO mampu bertahan dari berbagai tantangan, mulai dari perang di Ukraina hingga tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump yang kerap mempertanyakan relevansi aliansi itu. Namun, konflik di Timur Tengah yang terjadi jauh dari kawasan Eropa justru menjadi ujian paling berat bagi NATO.

Trump, yang kecewa karena negara-negara Eropa menolak mengirimkan angkatan laut untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz, bahkan mengisyaratkan kemungkinan menarik Amerika Serikat dari NATO.

“Bukankah Anda juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi saya?” ujar Trump dalam wawancara dengan Reuters.

Kepercayaan Sekutu Mulai Terkikis

Pernyataan Trump memicu kekhawatiran besar di kalangan sekutu Eropa mengenai komitmen AS terhadap prinsip pertahanan bersama NATO. Banyak pihak kini meragukan apakah Washington akan benar-benar membela negara anggota jika terjadi serangan.

Para analis menilai kondisi ini menunjukkan mulai rapuhnya aliansi yang selama ini menjadi pilar utama keamanan Eropa sejak era Perang Dingin.

Baca Juga: Jepang Peringatkan Naiknya Tekanan di Pasar Valas Seiring Meningkatnya Volatilitas

Max Bergmann, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, menyebut situasi saat ini sebagai titik terburuk NATO sejak didirikan.

Kekhawatiran tersebut juga mendorong perubahan pola pikir di Eropa. Jika sebelumnya NATO dianggap sebagai jaminan utama keamanan, kini muncul pandangan bahwa Eropa harus mulai mempersiapkan diri untuk bertahan tanpa dukungan penuh dari AS.

Jenderal Francois Lecointre bahkan menyatakan bahwa NATO tetap penting, namun Eropa harus mampu membayangkan aliansi tanpa keterlibatan Amerika.

Hubungan Transatlantik Memanas

Ketegangan juga terlihat dalam hubungan diplomatik antara AS dan Uni Eropa. Dalam pertemuan menteri luar negeri G7 di Paris, terjadi pertukaran argumen antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas terkait perang Ukraina dan pendekatan terhadap Rusia.

Selain itu, langkah AS yang dinilai lebih lunak terhadap Vladimir Putin serta kebijakan terkait energi Rusia turut menambah ketegangan di antara sekutu.

Trump juga sebelumnya memicu kontroversi dengan ancaman untuk mengambil alih Greenland dari Denmark, yang semakin memperburuk hubungan dengan negara-negara Eropa.

Batasan Hukum dan Risiko Nyata

Secara hukum, Trump kemungkinan tidak dapat secara sepihak menarik AS dari NATO tanpa persetujuan dua pertiga Senat AS. Namun, sebagai panglima tertinggi militer, ia memiliki kewenangan untuk menentukan apakah pasukan AS akan membela anggota NATO atau tidak.

Baca Juga: Korea Selatan dan Prancis Akan Tingkatkan Hubungan Kemitraan Pasca Kunjungan Macron

Analis menilai bahwa penolakan AS untuk bertindak dapat melemahkan NATO secara signifikan, bahkan tanpa penarikan resmi.

Masa Depan NATO di Persimpangan

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan mengunjungi Washington untuk mencoba meredakan ketegangan dan mempertahankan komitmen AS terhadap aliansi.

Meski demikian, banyak pihak menilai hubungan transatlantik tidak akan kembali seperti sebelumnya. Ketergantungan Eropa terhadap kemampuan militer AS, seperti intelijen satelit, masih menjadi faktor penting untuk mempertahankan kerja sama.

Mantan Duta Besar AS untuk NATO, Julianne Smith, menilai dunia tengah memasuki fase baru dalam hubungan transatlantik.

Menurutnya, meski hubungan tidak akan berakhir, dinamika kerja sama ke depan akan berubah secara signifikan dibandingkan delapan dekade terakhir.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global dan perbedaan kepentingan antar sekutu, masa depan NATO kini berada di titik krusial yang akan menentukan arah keamanan global ke depan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×