kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Perusahaan AS Dikepung Lonjakan Serangan Siber, dari Nike hingga Anak Usaha Coca-Cola


Jumat, 17 Juli 2026 / 16:54 WIB
Perusahaan AS Dikepung Lonjakan Serangan Siber, dari Nike hingga Anak Usaha Coca-Cola
ILUSTRASI. NIKE-CHINA/ (REUTERS/Florence Lo)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia kini tengah berjuang menghadapi gelombang serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI-driven) dan ransomware yang bertujuan mencuri data sensitif serta melumpuhkan operasional bisnis.

Melansir Reuters, kasus terbaru menimpa Fairlife LLC, perusahaan produk susu milik raksasa minuman Coca-Cola Co.

Baca Juga: Bursa Global Tertekan oleh Aksi Jual Saham Chip, Harga Minyak Terus Menguat

Pada Kamis (16/7), Fairlife terpaksa menghentikan sementara operasional produksinya di Amerika Serikat (AS) setelah pihak ketiga yang tidak dikenal berhasil mengakses sebagian sistem internal mereka tanpa izin.

Merespons ancaman yang kian nyata ini, Gedung Putih pada awal pekan telah meluncurkan kelompok koordinasi khusus.

Kelompok ini mempertemukan para pengembang AI dengan operator infrastruktur penting untuk saling berbagi informasi mengenai celah keamanan siber (vulnerabilities) yang diidentifikasi oleh sistem AI canggih, sekaligus mengoordinasikan langkah mitigasinya.

Baca Juga: Iran Serang Wilayah Suriah Timur, Klaim Sasar Pusat Operasi Militer AS di Al-Tanf

Daftar Serangan Siber yang Menimpa Perusahaan AS Sepanjang Tahun Ini

Berikut adalah rangkuman insiden keamanan siber yang dilaporkan atau berdampak pada sejumlah perusahaan besar di AS sepanjang tahun ini:

Januari

  • Nike (26 Januari): Kelompok ransomware "World Leaks" mengklaim telah mempublikasikan data sebesar 1,4 terabyte milik Nike di situs web mereka. Nike menolak memberikan komentar detail terkait penyelidikan maupun kebenaran adanya pembayaran uang tebusan.
  • Bumble, Match Group, Crunchbase, & Panera Bread (28 Januari): Bloomberg News melaporkan serangan siber berturut-turut yang menghantam Bumble, Match Group, dan Crunchbase. Di saat yang sama, jaringan restoran Panera Bread juga melaporkan kebocoran data kontak pelanggan dan telah berkoordinasi dengan pihak berwenang.

Baca Juga: Laba Operasional Volvo Merosot Jadi 800 Juta Krona di Kuartal II-2026

Februari

  • Wynn Resorts (24 Februari): Peretas berhasil mencuri data karyawan operator kasino dan hotel mewah ini. Para pelaku menuntut uang tebusan setara dengan US$ 1,5 juta dalam bentuk Bitcoin.

Maret

  • Stryker (11 Maret): Kelompok peretas yang terafiliasi dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber yang mengacaukan proses pemesanan, manufaktur, dan pengiriman global Stryker. Peretas menghapus paksa perangkat yang menggunakan sistem operasi Windows. Meski begitu, produsen perangkat medis ini memastikan layanan pasien tidak terganggu.
  • Crunchyroll (12 Maret): BleepingComputer melaporkan peretas mengklaim telah mencuri data pribadi dan 8 juta data tiket aduan pelanggan layanan streaming anime ini, termasuk 6,8 juta alamat email unik.
  • Hasbro (28 Maret): Produsen mainan raksasa ini mengonfirmasi adanya akses tidak sah ke jaringan internalnya yang memaksa beberapa sistem dinonaktifkan. Hasbro memperingatkan bahwa gangguan ini dapat menunda pemenuhan pesanan pelanggan hingga beberapa pekan ke depan.

Baca Juga: Lonjakan Kinerja Burberry Berlanjut, Pendapatan Naik Menjadi £455 juta

April

  • OpenAI (10 April): Pencipta ChatGPT ini mengidentifikasi celah keamanan setelah alat pengembang pihak ketiga, Axios, menyebabkan alur kerja GitHub mengunduh dan menjalankan versi Axios yang berbahaya. Namun, OpenAI memastikan tidak ada data pengguna, sistem utama, atau kekayaan intelektual yang bocor.
  • Take-Two Interactive / Rockstar Games (13 April): Kelompok peretas "ShinyHunters" mengklaim telah mencuri hampir 80 juta catatan bisnis pembuat gim Rockstar Games melalui eksploitasi celah keamanan pada penyedia analisis pihak ketiga, Anodot. Rockstar menyatakan data yang bocor bersifat terbatas dan tidak material.

Mei

  • West Pharmaceutical Services (4 Mei): Serangan siber berupa pencurian data dan penguncian sistem (lockups) mengacaukan aktivitas manufaktur dan logistik global produsen peralatan medis ini. Operasional berangsur pulih setelah sistem yang sempat dinonaktifkan diaktifkan kembali secara bertahap.
  • Instructure/Canvas (11 Mei): Instructure, pengembang sistem manajemen pembelajaran (LMS) Canvas yang digunakan secara global, mengonfirmasi peretasan oleh kelompok yang terkait ShinyHunters. Serangan ini sempat memutus akses dan mengekspos data siswa serta sekolah dari hampir 9.000 institusi sebelum akhirnya tercapai kesepakatan bahwa data yang dicuri telah dihapus tanpa adanya pemerasan lebih lanjut.
  • Blank Rome (21 Mei): Firma hukum terkemuka ini menghadapi gugatan perwakilan kelompok (class action) setelah peretas yang menyamar sebagai divisi IT menipu pengacara untuk mengunggah dokumen sensitif. Akibatnya, informasi pribadi milik 57.554 klien (aktif, mantan, maupun calon klien) bocor.
  • Carnival (27 Mei): Operator kapal pesiar terbesar di dunia ini melaporkan serangan rekayasa sosial (social-engineering) yang menyasar akun karyawan. Insiden ini membocorkan data pribadi berupa nama, alamat, hingga nomor identitas resmi sebelum akhirnya akses ilegal tersebut diblokir.

Baca Juga: Investor Asing Borong Obligasi Asia US$ 11,51 Miliar, Indonesia Jadi Favorit

Juni

  • Novo Nordisk (11 Juni): Produsen obat obesitas Wegovy ini melaporkan pihak tidak sah menyalin informasi dari sistem IT internalnya, termasuk data terbatas milik pasien uji klinis. Novo Nordisk sempat menonaktifkan sebagian sistem internalnya untuk penyelidikan, tetapi memastikan bisnis inti mereka tetap berjalan normal.
  • iRhythm Holdings (15 Juni): Perusahaan teknologi medis ini menjadi korban rekayasa sosial pada aplikasi bisnis pihak ketiga. Peretas berhasil mencuri data sensitif milik perusahaan serta data kesehatan pasien dan sempat melayangkan tuntutan tebusan. iRhythm menyatakan perawatan pasien dan operasional perangkat medis tidak terdampak.
  • AdaptHealth (15 Juni): Akun kontraktor pihak ketiga yang disusupi melalui taktik rekayasa sosial memberikan akses bagi peretas ke sistem manajemen pasien internal dan aplikasi berbasis awan (cloud). Peretas berhasil menggasak data pasien dan kata sandi penagihan asuransi.
  • Fortinet (17 Juni): Para peneliti keamanan siber mengungkapkan kampanye peretasan skala besar yang menargetkan perangkat firewall dan VPN Fortinet. Serangan ini berhasil menyusupi sekitar 75,000 sistem di seluruh dunia, yang memicu pencurian kata sandi di berbagai perusahaan Fortune 500 serta lembaga pemerintah di lebih dari 15 negara.

Baca Juga: Jerman Usulkan Pasukan Uni Eropa Gantikan Misi PBB di Lebanon

Juli

  • Coca-Cola Co / Fairlife (16 Juli): Kasus terbaru melibatkan Fairlife yang terpaksa menghentikan sementara lini produksinya di AS akibat gangguan pada sistem produksi akibat akses tidak sah. Fairlife kini tengah bekerja keras memulihkan operasional dan menyelidiki insiden ini lebih lanjut.


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×