kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,11   -0,67   -0.07%
  • EMAS942.000 -0,95%
  • RD.SAHAM 0.31%
  • RD.CAMPURAN 0.18%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.05%

Perusahaan ritel mode terbesar kedua dunia ini tutup 250 gerainya


Jumat, 02 Oktober 2020 / 08:00 WIB
Perusahaan ritel mode terbesar kedua dunia ini tutup 250 gerainya
ILUSTRASI. Perusahaan ritel mode terbesar kedua di dunia, H&M di Swedia, berencana untuk menutup 250 gerainya secara global. REUTERS/Arnd Wiegmann


Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - STOCKHOLM. Perusahaan ritel mode terbesar kedua di dunia, H&M di Swedia, berencana untuk menutup 250 gerainya secara global.

Penutupan akan dilakukan tahun depan setelah perusahaan mengatakan pandemi Covid-19 telah menarik lebih banyak pembeli secara online.

Meskipun H&M mengaku penjualan mulai pulih pada bulan September, namun angka tersebut masih 5% lebih rendah dibandingkan bulan yang sama di tahun 2019.

Melansir BBC, perusahaan ini memiliki 5.000 gerai di seluruh dunia. Namun, belum jelas berapa banyak gerai yang ditutup di Inggris.

Baca Juga: Penjualan H&M dan peritel lain mulai membaik di September

"Terlalu dini bagi kami untuk memberikan rincian tentang ini, jumlahnya akan berbeda dari pasar [nasional] ke pasar," jelas manajemen H&M seperti yang dikutip BBC.

H&M memiliki hak kontrak untuk menegosiasikan ulang atau mengakhiri sewa di sekitar seperempat tokonya setiap tahun. Peritel tersebut mengatakan bahwa mereka merencanakan penutupan sekitar 250 toko tahun depan.

Sementara laba sebelum pajak turun menjadi 2,37 miliar krona Swedia (£ 210 juta) selama sembilan bulan hingga 31 Agustus. Pencapaian ini lebih baik dari perkiraan para analis.

Namun, dikatakan, 166 tokonya di seluruh dunia masih tetap ditutup, dan sejumlah besar masih dibuka namun memiliki batasan lokal seperti jam operasional yang terbatas.

Baca Juga: Mengenal Tadashi Yanai, bos Uniqlo yang jadi orang terkaya di Jepang

"Apa yang kami lihat secara umum selama beberapa bulan terakhir dari pandemi adalah perubahan langkah dalam jumlah penjualan yang online. Itu telah mempengaruhi semua bagian industri, tetapi khususnya pakaian dan alas kaki," jelas Analis Richard Lim dari Retail Economics mengatakan kepada BBC.

Ia juga mengatakan, konsumen yang secara fisik mengunjungi toko untuk berbelanja, telah terjadi perpindahan dari High Streets dan pusat perbelanjaan ke arah retail park.

H&M mengatakan, pihaknya sekarang akan mempercepat rencana demi meningkatkan investasi digital untuk mengatasi permintaan online yang terus meningkat.

Perusahaan yang berbasis di Stockholm itu mengatakan telah mengambil "tindakan cepat dan tegas" untuk mengelola dampak virus corona, termasuk perubahan pada pembelian, investasi, sewa, kepegawaian dan pembiayaan.

"Meskipun tantangan masih jauh dari selesai, kami percaya bahwa yang terburuk ada di belakang kami dan kami berada di posisi yang tepat untuk keluar dari krisis dengan lebih kuat," jelas CEO H&M Helena Helmersson.

 

Selanjutnya: Mal kembali dibuka, emiten ritel segmen menengah atas lebih diuntungkan

 

 




TERBARU
Corporate Valuation Model Managing Procurement Economies of Scale Batch 5

[X]
×