kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Pesawat Flydubai Nyaris Celaka, Kopilot Diduga Lakukan Serangan Teror


Sabtu, 03 Oktober 2026 / 19:39 WIB
Pesawat Flydubai Nyaris Celaka, Kopilot Diduga Lakukan Serangan Teror
ILUSTRASI. Otoritas Uni Emirat Arab (UEA) mengungkap fakta terbaru terkait insiden penerbangan Flydubai menuju Israel (DOK/Wikipedia)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DUBAI/TEL AVIV. Otoritas Uni Emirat Arab (UEA) mengungkap fakta terbaru terkait insiden penerbangan Flydubai menuju Israel. Kopilot pesawat tersebut diduga berupaya melakukan serangan teror menggunakan kapak saat penerbangan berlangsung.

Jaksa Agung UEA Hamad Saif Al Shamsi mengatakan, penyelidikan terhadap insiden penerbangan Flydubai FZ1073 menemukan bahwa kopilot berupaya melakukan serangan teroris.

"Dalam penyelidikan terhadap insiden yang melibatkan penerbangan Flydubai FZ1073, ditemukan bahwa kopilot telah berupaya melakukan serangan teroris," kata Hamad Saif Al Shamsi dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi UEA pada Sabtu (3/10/2026).

Menurut jaksa agung UEA, kopilot menyerang pilot di dalam kokpit menggunakan kapak pemecah kaca (crash axe) dan berusaha mengambil alih kendali pesawat.

Baca Juga: Korea Utara Uji Rudal Strategis Jarak Menengah, Kim Yo Jong Klaim Sulit Dilacak

Kapak tersebut merupakan perlengkapan yang biasanya tersedia di dalam kokpit dan digunakan dalam kondisi darurat, termasuk ketika terjadi kecelakaan pesawat.

Insiden tersebut terjadi pada Rabu. Bencana berhasil dihindari setelah penumpang dan awak pesawat melumpuhkan kopilot yang menyerang kapten penerbangan.

Pejabat Israel sebelumnya mengatakan serangan terhadap kapten tersebut diduga merupakan upaya untuk membuat pesawat yang membawa lebih dari 170 penumpang dan awak jatuh.

Identitas Kopilot Flydubai

Kopilot tersebut diidentifikasi sebagai Hammam al-Hammami, warga negara Oman, berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui langsung perkara tersebut kepada Reuters.

Sumber kedua yang mendapat penjelasan mengenai penyelidikan juga mengonfirmasi identitas kopilot tersebut. Otoritas UEA belum segera memberikan konfirmasi mengenai identitasnya ketika dimintai keterangan.

Otoritas Emirat dan Flydubai sebelumnya belum mengungkap identitas kopilot secara terbuka. Namun, pejabat Israel sebelumnya menyebut bahwa kopilot tersebut merupakan warga negara Oman.

Pemerintah Oman belum memberikan komentar terkait insiden tersebut.

Penyelidikan atas penerbangan FZ1073, termasuk motif yang melatarbelakangi tindakan kopilot, masih berlangsung. Jaksa agung UEA mengatakan hasil penyelidikan akan diumumkan setelah "prosedur yang diperlukan" selesai dilakukan.

UEA memimpin penyelidikan atas insiden tersebut. Flydubai sendiri merupakan maskapai yang dimiliki oleh pemerintah Dubai.

Mayoritas Penumpang Pesawat Flydubai Warga Israel

Pernyataan jaksa agung UEA menjadi keterangan pertama dari penyidik Emirat yang secara terbuka menyebut insiden tersebut sebagai upaya serangan teroris.

Baca Juga: Trump Gandeng Enam Raksasa Teknologi untuk Atasi Risiko AI

Setelah pernyataan tersebut diterbitkan, Anwar Gargash, penasihat senior Presiden UEA, mengatakan melalui platform X bahwa negaranya tidak menoleransi terorisme.

Ia juga menegaskan UEA tidak akan memberikan kelonggaran terhadap retorika ekstremis.

Sementara itu, Flydubai menyatakan kondisi terkait insiden tersebut masih dalam penyelidikan sehingga maskapai belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut.

"Keadaan seputar insiden tersebut masih dalam penyelidikan dan kami belum berada dalam posisi untuk memberikan komentar lebih lanjut," ujar juru bicara Flydubai pada Sabtu.

Reuters belum dapat segera memverifikasi halaman profesional maupun media sosial yang diduga milik kopilot tersebut. Sejumlah informasi di halaman tersebut mengindikasikan bahwa ia pernah bekerja untuk maskapai lain.

Royal Air Maroc (RAM) mengatakan kepada Reuters bahwa kopilot tersebut pernah menjalani pelatihan selama tiga bulan di maskapai tersebut pada 2025. Namun, setelah pelatihan, lamaran untuk bekerja di RAM ditolak.

RAM tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan penolakan tersebut.

CEO Flydubai Ghaith al Ghaith dalam pernyataan publik pertamanya terkait insiden pada Jumat mengatakan pesawat melakukan pengalihan rute setelah terjadi "insiden keselamatan" di dalam kokpit.

Sebagian besar penumpang dalam penerbangan tersebut merupakan warga negara Israel.

Pesawat Mendarat Darurat di Arab Saudi

Situasi di dalam pesawat kemudian berhasil dikendalikan setelah seorang pilot cadangan Flydubai yang kebetulan berada dalam penerbangan mengambil alih kendali pesawat.

Pesawat kemudian mendarat di Bandara Tabuk, Arab Saudi bagian barat laut. Setelah mendarat, kopilot ditahan oleh otoritas Arab Saudi.

Kopilot tersebut kemudian dipindahkan dari Arab Saudi ke Abu Dhabi pada Kamis.

Sumber yang mendapat penjelasan mengenai penyelidikan mengatakan kepada Reuters pada Jumat bahwa pejabat Israel diperkirakan akan memeriksa kopilot tersebut di UEA. Namun, sumber tersebut tidak menyebutkan lembaga atau otoritas Israel yang akan terlibat.

Baca Juga: China Buka Investigasi Anti-Dumping Impor Bahan Kimia dari Uni Eropa

Seorang pejabat pemerintah Israel mengatakan penyelidik Israel akan ikut serta dalam penyelidikan yang dipimpin oleh otoritas Emirat di UEA.

Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Oman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengatakan pilot dari negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel tidak diperbolehkan mengoperasikan penerbangan menuju Israel.

Belum diketahui bagaimana kopilot berkewarganegaraan Oman tersebut dapat ditugaskan untuk penerbangan menuju Tel Aviv.

Pada Jumat, Netanyahu mengatakan Israel tengah menyelidiki apakah kopilot tersebut bertindak atas arahan pihak lain.

"Siapa pun yang terlibat akan membayar harga yang sangat mahal," kata Netanyahu.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan Flightradar24, pesawat tersebut kehilangan ketinggian sekitar 16.625 kaki atau lebih dari 5.000 meter dalam waktu sedikit lebih dari 30 detik ketika melintas di wilayah udara Arab Saudi dalam perjalanan dari UEA menuju Israel.

Rute penerbangan tersebut diketahui menjadi salah satu jalur yang banyak digunakan wisatawan dan penumpang asal Israel.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×