CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Piala Dunia 2026 Berakhir: Spanyol Juara, Format Baru dan Kontroversi Jadi Sorotan


Senin, 20 Juli 2026 / 14:34 WIB
Piala Dunia 2026 Berakhir: Spanyol Juara, Format Baru dan Kontroversi Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Piala Dunia 2026 resmi berakhir pada Minggu (20/7/2026) waktu setempat, dengan Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina (IMAGN IMAGES via Reuters/VINCENT CARCHIETTA)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – NEW YORK. Piala Dunia 2026 resmi berakhir pada Minggu (20/7/2026) waktu setempat, dengan Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu di partai final yang digelar di Stadion New York New Jersey dan disaksikan puluhan ribu penonton.

Turnamen yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menghadirkan format baru dengan 48 tim peserta. Perluasan format tersebut menghasilkan lebih banyak pertandingan, lebih banyak gol, serta berbagai rekor baru.

Meski demikian, dominasi negara-negara unggulan tetap terlihat. Empat tim yang berhasil melaju ke babak semifinal merupakan tim-tim dengan peringkat tertinggi FIFA, yaitu Argentina, Spanyol, Prancis, dan Inggris.

Di tengah dominasi para raksasa sepak bola, sejumlah tim mampu mencuri perhatian lewat penampilan mengejutkan. Tanjung Verde, yang menjalani debut di Piala Dunia, sukses merebut hati para penggemar setelah menahan imbang Spanyol dan Uruguay serta memaksa Argentina bermain hingga babak tambahan.

Baca Juga: Trump dan Presiden FIFA Disoraki Saat Upacara Penyerahan Trofi Piala Dunia

Sementara itu, Norwegia tampil impresif dengan gaya permainan yang dijuluki “barisan Viking” dan berhasil mencapai perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Amerika Serikat Dinilai Sukses Menjadi Tuan Rumah

Sebelum turnamen dimulai, sejumlah kekhawatiran muncul terkait proses visa, tingginya angka kepemilikan senjata api, hingga minimnya antusiasme masyarakat lokal terhadap sepak bola di Amerika Serikat.

Namun, pada akhirnya para pendukung dari berbagai negara merasakan sambutan hangat dari warga Amerika dalam ajang yang kemudian dikenal sebagai “Great American Sleepover”. Media sosial dipenuhi berbagai unggahan yang memperlihatkan pertukaran budaya antara warga lokal dan suporter mancanegara, mulai dari tradisi musik bagpipe di pagi hari hingga pengalaman wisatawan Eropa menikmati layanan isi ulang minuman ringan gratis.

Di Kanada, sepak bola putra selama bertahun-tahun kesulitan berkembang di level tertinggi. Namun, keberhasilan tim nasional Kanada melaju hingga babak 16 besar dinilai menjadi sinyal perubahan, seiring meningkatnya investasi di sektor olahraga dan rekor jumlah penonton yang hadir di stadion.

Berbeda dengan Kanada, sepak bola telah lama mengakar di Meksiko. Stadion-stadion dipenuhi penonton, terutama ketika tim nasional Meksiko bertanding. Namun, kemenangan pertama Meksiko di fase gugur Piala Dunia dalam 40 tahun terakhir justru diwarnai tragedi.

Perayaan kemenangan tersebut menyebabkan empat orang meninggal dunia akibat desak-desakan massa. Selain itu, hingga kini belum terlihat dampak ekonomi jangka panjang yang signifikan dari penyelenggaraan turnamen tersebut.

Baca Juga: Argentina Gagal Back-to-Back Juara Piala Dunia, Suporter Tetap Bangga pada Messi Cs

Performa Amerika Serikat Kembali Menuai Kritik

Para pendukung Amerika Serikat kembali dibuat kecewa setelah tim nasional mereka tersingkir di babak 16 besar.

Intervensi kontroversial Presiden Donald Trump terkait pembatalan hukuman kartu merah terhadap penyerang utama tim dari pertandingan sebelumnya juga tidak banyak mengubah hasil akhir.

Setelah euforia turnamen mereda, satu fakta tetap terlihat, yakni performa tim Amerika Serikat dinilai masih sesuai dengan ekspektasi yang ada.

Harga Tiket Mahal dan Akses Penonton Menjadi Sorotan

Salah satu isu yang paling banyak menuai kritik sepanjang turnamen adalah tingginya harga tiket stadion dibandingkan edisi-edisi Piala Dunia sebelumnya.

Meski jumlah penonton tetap tinggi, biaya untuk menyaksikan pertandingan secara langsung dinilai semakin membatasi akses publik. Piala Dunia kini dianggap hanya dapat dinikmati oleh kalangan berpenghasilan tinggi atau penggemar fanatik.

Selain masyarakat kelas pekerja, para pendukung dari negara-negara yang menghadapi pembatasan visa juga kesulitan menghadiri turnamen. Kehadiran komunitas diaspora dan dukungan warga Amerika Serikat membantu mengisi kursi stadion.

Baca Juga: Spanyol Naik Takhta Dunia Setelah Bekuk Argentina pada Final Piala Dunia 2026

Nuansa Politik dan “Amerikanisasi” Sepak Bola

Aturan FIFA melarang segala bentuk ekspresi politik di stadion. Namun, ketika aksi-aksi politik muncul selama turnamen berlangsung, tidak ada respons langsung dari pihak berwenang dan pertandingan tetap berjalan.

Selain itu, sejumlah inovasi khas olahraga Amerika juga memicu perdebatan. Penerapan jeda hidrasi dan pertunjukan hiburan pada jeda babak final menuai kritik karena dianggap mengganggu ritme alami pertandingan demi memberikan ruang lebih besar bagi iklan siaran.

Meski demikian, para pelatih memanfaatkan jeda tersebut untuk kepentingan taktik. Di tengah meningkatnya suhu global, inovasi semacam ini berpotensi menjadi bagian permanen dari masa depan sepak bola dunia.




TERBARU

[X]
×