QatarEnergy dan ConocoPhillips Sepakat Ekspor 2 Juta Ton LNG ke Jerman

Rabu, 30 November 2022 | 14:04 WIB   Reporter: Diki Mardiansyah
QatarEnergy dan ConocoPhillips Sepakat Ekspor 2 Juta Ton LNG ke Jerman

ILUSTRASI. Conoco Phillips bakal ekspor LNG sebanyak 2 juta ton


KONTAN.CO.ID - DOHA. Perusahaan minyak dan gas milik Qatar, QatarEnergy dan ConocoPhillips, perusahaan minyak dan gas asal Amerika Serikat (AS), sepakat menandatangani perjanjian jual beli untuk mengekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke Jerman selama setidaknya 15 tahun yang dimulai tahun 2026.

Seperti dilansir Aljazeera pada Selasa (29/11), perjanjian tersebut akan memberi Jerman dua juta ton LNG setiap tahun, selama setidaknya 15 tahun mulai dari 2026. Kesepakatan ekspor ke negara Eropa ini menjadi yang pertama kali dilakukan, sejak proyek perluasan Qatar’s North Field.

Kepala Eksekutif QatarEnergy mengatakan, perjanjian ini akan memberi Jerman dua juta ton LNG setiap tahunnya yang dikirim dari Ras Laffan, Qatar ke terminal utara LNG Jerman di Brunsbuettel. Sayangnya, kedua belah pihak  tidak memberikan informasi mengenai berapa besaran dolar untuk kesepakatan ekspor LNG ke Jerman ini.

“(Perjanjian) ini menjadi  perjanjian pasokan LNG jangka panjang pertama yang dikirim ke Jerman dengan periode pasokan yang diperpanjang setidaknya selama 15 tahun. Ini akan berkontribusi pada keamanan energi jangka panjang di Jerman,” kata CEO Saad Al Kaabi dalam berita bersama konferensi dengan CEO ConocoPhillips Ryan Lance.

Adapun, kesepakatan ini dilatarbelakangi akibat negara-negara di Eropa yang saling berebut LNG. Ekspor dari dua perusahaan minyak ini untuk mengganti pasokan gas dari Rusia yang telah dipangkas selama perang yang berlangsung di Ukraina.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik Dipicu Harapan Pelonggaran Kontrol COVID-19 di China

Ketika negara-negara Eropa mendukung Ukraina akibat invasi yang dilakukan oleh Rusia pada bulan Februari 2022. Moskow memutuskan untuk memangkas pasokan gas alam yang digunakan untuk menghangatkan rumah, menghasilkan listrik dan industri listrik ke negara-negara Eropa.

Pemangkasan gas alam ke Eropa memicu krisis energi yang mengakibatkan inflasi dan memberikan tekanan pada perusahaan karena harga yang naik.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, persaingan untuk mendapatkan LNG di Eropa menjadi ketat, Sebab, Eropa membutuhkan jumlah yang sangat besar untuk membantu menggantikan pipa gas Rusia yang biasanya menghasilkan hampir 40% impor di benua biru itu.

Jerman sebagai negara yang mendapatkan lebih dari setengah gasnya dari Rusia sebelum perang, kini belum menerima LNG dari Rusia sejak akhir Agustus 2022.

Sementara itu, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh ConocoPhillips akan membeli jumlah yang disepakati untuk dikirim dengan kapal ke penerima Jerman yang saat ini tengah dikembangkan.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck dalam sebuah konferensi bisnis di Berlin mengatakan, Jerman berencana menjadi negara dengan netral karbon pada tahun 2045. Untuk mencapai itu, Jerman membatasi jumlah gas yang akan diterima negara di masa depan.

Baca Juga: Kemendag: Kebijakan Rasio Hak Ekspor CPO Tetap 1:8

Jerman memang harus mengurangi konsumsi gasnya mulai pertengahan 2030-an apabila ingin mencapai tujuan ambisiusnya untuk mengatasi perubahan iklim. Upaya Jerman untuk mencegah krisis energi jangka pendek juga mencakup pengaktifan kembali pembangkit listrik tenaga minyak dan batu bara tua serta memperpanjang masa pakai tiga pembangkit listrik tenaga nuklir terakhir di Jerman, yang seharusnya dimatikan pada akhir tahun ini.

Sebagai gambaran, kesepakatan ini terjadi beberapa hari setelah QatarEnergy menandatangani perjanjian penjualan dan pembelian selama 27 tahun dengan Sinopec China. QatarEnergy di awal tahun ini telah menandatangani lima kesepakatan untuk North Field East (NFE).

Ini menjadi yang pertama dan lebih besar dari rencana ekspansi dua fase North Field yang mencakup enam kereta. LNG akan meningkatkan kapasitas pencairan Qatar menjadi 126 juta ton per tahun pada tahun 2027 dari 77 juta.

Adapun, pada hari Selasa (29/11), Al Kaabi mengatakan negosiasi sedang berlangsung dengan perusahaan Jerman lainnya untuk pasokan lebih lanjut.

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru