Respons Malaysia Pasca Pemerintah Indonesia Larangn Ekspor CPO dan Turunannya

Sabtu, 30 April 2022 | 08:20 WIB Sumber: Reuters
Respons Malaysia Pasca Pemerintah Indonesia Larangn Ekspor CPO dan Turunannya

ILUSTRASI. A Sime Darby Plantation worker shows palm oil fruits at a plantation in Pulau Carey, Malaysia, January 31, 2020. Respons Malaysia Pasca Pemerintah Indonesia Larangn Ekspor CPO dan Turunannya.


KONTAN.CO.ID -  KUALA LUMPUR. Negara-negara harus menghentikan sementara penggunaan minyak kelapa sawit sebagai biofuel, Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) mengatakan sambil memperingatkan krisis pasokan menyusul larangan ekspor CPO Indonesia.

Indonesia, produsen dan pengekspor CPO utama dunia, mengirimkan gelombang kejutan ke pasar pada Jumat (22/4) pekan lalu, ketika mengumumkan akan memberlakukan larangan ekspor minyak goreng dan bahan bakunya mulai 28 April 2022.

Pasokan CPO global sudah tersendat oleh cuaca buruk dan invasi Rusia ke Ukraina, dan sekarang konsumen global tidak punya pilihan selain membayar mahal untuk suplai minyak nabati tersebut.

Gangguan akibat konflik Rusia dan Ukraina telah memperburuk kenaikan harga komoditas pangan dunia, yang sudah mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir, menurut indeks Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), mengancam lonjakan kekurangan gizi global.

Baca Juga: Ada Larangan Ekspor, Ini Kata Sampoerna Agro (SGRO)

"Negara pengekspor dan negara pengimpor harus memiliki prioritas yang tepat, inilah saatnya untuk sementara mempertimbangkan kembali prioritas pangan versus bahan bakar," kata Direktur Jenderal MPOB Ahmad Parveez Ghulam Kadir kepada Reuters.

"Sangat penting bagi negara-negara untuk memastikan minyak nabati yang tersedia digunakan untuk makanan, dan menghentikan sementara atau mengurangi mandat biodiesel mereka," ujarnya seraya menambahkan, negara-negara bisa melanjutkan program biodiesel setelah pasokan normal.

CPO, minyak nabati yang paling banyak digunakan, juga dipakai sebagai bahan baku biodiesel.

Indonesia dan Malaysia mewajibkan biodiesel untuk dicampur dengan minyak sawit dalam jumlah tertentu, masing-masing 30% dan 20%. Dan, baru bulan lalu mengatakan, mereka tetap berkomitmen pada mandat tersebut, meskipun harga CPO lebih tinggi.

Negara-negara lain juga membuat biofuel dari lemak hewani dan minyak nabati seperti jagung dan kedelai, dan memberlakukan mandat. Permintaan untuk biofuel telah meningkat menyusul upaya mitigasi perubahan iklim.

Baca Juga: Harga CPO Akan Melonjak Seiring Adanya Kebijakan Larangan Ekspor CPO Indonesia

Malaysia menyumbang 31% dari pasokan CPO global, kedua setelah Indonesia 56%.

Meskipun Malaysia bisa mendapat manfaat dari kebijakan drastis Indonesia tersebut, produsen menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat pandemi. Dan, produsen CPO negeri jiran mengatakan, mereka tidak dapat mengisi kesenjangan pasokan global.

Malaysia juga perlu melihat stok dan perkiraan produksinya untuk memastikan permintaan lokal tidak diabaikan, sambil memenuhi permintaan global, Ahmad Parveez menambahkan.

Asosiasi Minyak Kelapa Sawit Malaysia (MPOA) menyatakan, masuknya ribuan pekerja akan meningkatkan produksi paling banyak satu juta ton.

"Kenyataannya, kami bisa meningkatkan produksi kami, tetapi ini masih belum cukup untuk memenuhi permintaan dunia," kata Chief Executive Officer MPOA Nageeb Wahab kepada Reuters.

Editor: Noverius Laoli

Terbaru