kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.482   97,00   0,59%
  • IDX 7.771   -180,81   -2,27%
  • KOMPAS100 1.082   -24,22   -2,19%
  • LQ45 794   -17,88   -2,20%
  • ISSI 263   -5,59   -2,08%
  • IDX30 412   -9,22   -2,19%
  • IDXHIDIV20 479   -9,02   -1,85%
  • IDX80 119   -3,01   -2,46%
  • IDXV30 129   -3,65   -2,76%
  • IDXQ30 133   -2,74   -2,01%

Revolusi AI Berikutnya Diprediksi Akan Terjadi di Dunia Fisik


Jumat, 29 Agustus 2025 / 10:11 WIB
Revolusi AI Berikutnya Diprediksi Akan Terjadi di Dunia Fisik
ILUSTRASI. Ilustrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)


Sumber: Fortune,Fortune | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Mantan insinyur Apple yang terlibat dalam pengembangan iPhone pertama dan pendiri Nest, Tony Fadell, menilai kecerdasan buatan (AI) hanya akan memberi manfaat besar bagi masyarakat jika dipadukan dengan perangkat keras dan infrastruktur fisik. 

Menurutnya, inovasi teknologi tidak seharusnya hadir sekadar demi teknologi, melainkan harus mempermudah hidup manusia.

Fadell mengingat kembali pengalaman bekerja bersama Steve Jobs. Pada tahap awal, prototipe iPhone menggunakan klik roda seperti iPod. Namun, setelah diuji, konsep tersebut dianggap merepotkan pengguna sehingga dibatalkan. 

“Pelajaran dari Jobs jelas: jangan buat hidup pengguna lebih sulit,” ujarnya.

Baca Juga: Tantangan dan Peluang AI dalam Otomatisasi di Dunia Kerja bagi Keluarga

Ia menilai dilema serupa kini terjadi pada AI. Teknologi ini masih menuntut pengguna untuk memberikan perintah yang tepat agar berfungsi optimal. 

Padahal, AI seharusnya membuat hidup lebih mudah, terutama jika diterapkan dalam dunia nyata melalui perangkat keras.

Sejalan dengan itu, CEO Nvidia Jensen Huang menekankan pentingnya pemahaman ilmu fisika, friksi, inersia, dan sebab-akibat untuk mendorong revolusi AI di dunia fisik. 

Huang menilai masa depan AI tidak hanya ada di ranah perangkat lunak, melainkan pada penerapan praktis di sektor-sektor besar seperti manufaktur, transportasi, kesehatan, hingga pertanian.

Fadell menegaskan, potensi ini sangat besar. Industri dengan operasi fisik bernilai triliunan dolar membutuhkan waktu, modal, dan fokus dalam memadukan perangkat lunak mutakhir dengan perangkat keras yang tepat. 

Baca Juga: 10 AI Paling Cerdas di Dunia, Peringkat Pertama Punya IQ 135

Berbeda dengan perangkat lunak yang bisa diperbarui setelah peluncuran, perangkat keras menuntut persiapan matang karena hanya punya satu kesempatan untuk dirancang dengan benar sebelum dipasarkan.

“Kesuksesan perangkat keras yang dipadukan dengan AI akan menciptakan keunggulan kompetitif melalui hak kekayaan intelektual, keahlian manufaktur, hingga diferensiasi merek,” kata Fadell. 




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×