Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung bervariasi pada perdagangan Jumat (10/7/2026).
Ringgit Malaysia memimpin penguatan di tengah pergerakan yang relatif terbatas pada mata uang utama kawasan.
Baca Juga: Rasio Gol Kylian Mbappe di Piala Dunia Tembus 1:1, Bisa Salip Rekor Messi?
Berdasarkan data Reuters hingga pukul 02.10 GMT, ringgit Malaysia menguat 0,25% ke level 4,064 per dolar AS, menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia pada sesi tersebut.
Yen Jepang juga menguat 0,41% ke level 161,710 per dolar AS, sementara dolar Singapura naik 0,09% menjadi 1,291 per dolar AS.
Mata uang lainnya juga mencatat penguatan tipis. Yuan China menguat 0,13% ke level 6,782 per dolar AS, peso Filipina naik 0,16% menjadi 61,525 per dolar AS, sedangkan baht Thailand menguat tipis 0,01% ke posisi 33,335 per dolar AS.
Di sisi lain, rupiah Indonesia melemah tipis 0,03% ke level Rp 18.075 per dolar AS, sementara won Korea Selatan turun 0,04% ke posisi 1.510,10 per dolar AS. Adapun rupee India relatif tidak berubah di level 95,388 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Tipis Jumat (10/7) Pagi, Brent ke US$76,24 & WTI ke US$72,04
Kinerja sepanjang 2026
Secara tahunan (year-to-date), mayoritas mata uang Asia masih berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS.
Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan, yakni sekitar 7,77% sejak akhir 2025.
Posisi rupiah melemah dari Rp 16.670 per dolar AS pada akhir tahun lalu menjadi Rp 18.075 per dolar AS.
Baca Juga: Topan Bavi Ancam Kepulauan Barat Daya Jepang, Puluhan Penerbangan Dibatalkan
Pelemahan juga dialami rupee India sebesar 5,78%, baht Thailand 5,65%, won Korea Selatan 4,68%, peso Filipina 4,43%, serta yen Jepang yang melemah 3,13% sepanjang tahun ini.
Sementara itu, dolar Taiwan turun 2,30%, dolar Singapura melemah 0,40%, dan ringgit Malaysia terkoreksi tipis 0,20% dibandingkan posisi akhir 2025.
Berbeda dengan mata uang lainnya, yuan China justru menguat sekitar 3,04% terhadap dolar AS sepanjang 2026, menjadikannya salah satu mata uang Asia dengan kinerja terbaik terhadap greenback tahun ini.














