Sumber: The Star | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
“Suhu geopolitik sedikit mereda setelah pertemuan World Economic Forum (WEF), di mana Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya. Namun yang lebih penting adalah ketahanan ekonomi Malaysia,” ujar Afzanizam.
Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Malaysia yang melampaui ekspektasi, serta keputusan Bank Negara Malaysia untuk mempertahankan suku bunga acuan (OPR) pada rapat Komite Kebijakan Moneter pertamanya tahun ini, sebagai cerminan optimisme bank sentral terhadap kondisi ekonomi.
“Hal ini memberi sinyal bahwa OPR kemungkinan akan dipertahankan sepanjang tahun,” katanya.
Afzanizam menambahkan, jika Federal Reserve AS memangkas suku bunga acuannya, selisih antara OPR dan Fed Fund Rate akan menyempit, sehingga minat terhadap ringgit berpotensi meningkat.
Ekonomi Malaysia tumbuh 4,9% pada 2025, melampaui proyeksi resmi sebesar 4%–4,8%. Sementara itu, Bank Negara pada Kamis lalu kembali menahan OPR dengan alasan prospek pertumbuhan yang positif.
Di pasar obligasi, surat utang pemerintah Malaysia juga tetap diminati, dengan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 0,3 basis poin menjadi 3,54%.
Penguatan ringgit juga bersifat luas terhadap berbagai mata uang utama dan regional, sekaligus meningkatkan daya beli warga Malaysia untuk perjalanan ke luar negeri.
Satu ringgit kini setara dengan sekitar 1,74 yuan China, naik 1,44% sejak awal tahun.
Nilai tukar euro berada di kisaran RM 4,70, dibandingkan RM 4,77 pada awal tahun.
Terhadap dolar Singapura, ringgit menguat sekitar 0,9% ke level tertinggi dalam empat tahun di RM 3,13, dari RM 3,16 di awal tahun.
Tonton: Trump Ancam Kanada dengan Tarif 100%, Jika Deal China?
Ringgit juga mencetak rekor terhadap yen Jepang, dengan satu ringgit setara sekitar 39,59 yen, naik dari 38,55 yen pada awal tahun.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) berada di level 98,43, jauh di bawah ambang 100 yang biasanya mencerminkan kekuatan dolar secara luas.
Ke depan, Innes memperkirakan pasangan dolar AS/ringgit akan bergerak pada tren “perlahan menurun” hingga akhir tahun, meski volatilitas masih akan terjadi.
“Namun secara gambaran besar, arah pasar masih mengarah pada pelemahan dolar secara bertahap, bukan penguatan kembali.
“Ketika investor mulai meninjau ulang eksposur dolar dan mencari mata uang yang didukung arus perdagangan serta aset riil, Malaysia berada di posisi yang tepat pada waktu yang tepat,” pungkasnya.













