Sumber: The Star | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar ringgit diperkirakan akan menguat secara bertahap hingga akhir tahun ini. Menurut para analis, kondisi ini didorong oleh melemahnya dolar Amerika Serikat serta faktor fundamental domestik Malaysia.
Mengutip The Star, saat ini, ringgit diperdagangkan di level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir terhadap dolar AS, atau berada di posisi terkuat sejak pertengahan 2018.
Pada Jumat lalu, ringgit bahkan sempat menembus level psikologis RM 4,00 per dolar AS.
Secara year to date, ringgit telah menguat 1,37% ke kisaran RM 4 per dolar AS, dari posisi RM 4,06 pada awal 2026. Hingga akhir pekan perdagangan, ringgit ditutup di level RM 4,0025, setelah sempat menyentuh RM 3,998 dalam perdagangan intraday.
Sejak Datuk Seri Anwar Ibrahim dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia pada November 2022, ringgit telah terapresiasi hampir 11%, dari sekitar RM 4,50 per dolar AS.
Managing Partner SPI Asset Management, Stephen Innes, menilai penembusan pasangan dolar AS/ringgit ke bawah level RM 4,00 mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek jangka panjang aset berbasis dolar AS.
Baca Juga: Badai Musim Dingin Landa AS, 850.000 Rumah Padam Listrik & 10.000 Penerbangan Batal
“Investor semakin tidak nyaman dengan cerita jangka panjang Amerika Serikat, defisit fiskal yang besar, penerbitan utang yang masif, serta persepsi bahwa premi dolar perlahan terkikis,” ujarnya kepada StarBiz.
Menurut Innes, kondisi tersebut mendorong arus modal global mencari alternatif selain dolar AS.
Pelemahan dolar AS juga berdampak pada penguatan mata uang Asia lainnya.
Innes menilai Asia kini semakin dipandang bukan lagi sebagai kawasan berisiko tinggi, melainkan destinasi yang relatif aman bagi aliran modal, khususnya negara-negara dengan ekonomi riil yang kuat dan basis ekspor komoditas.
“Malaysia sangat cocok dengan kriteria tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, ringgit diuntungkan oleh pendapatan ekspor yang stabil, neraca eksternal yang sehat, serta persepsi bahwa kredibilitas kebijakan tetap terjaga di tengah meningkatnya volatilitas global.
Senada, Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai ketahanan ringgit ditopang kuat oleh fundamental ekonomi Malaysia sendiri.
Dalam kondisi ini, pelaku pasar menjadi semakin “konstruktif” terhadap ringgit.
Baca Juga: Khamenei Sembunyi di Bunker: Iran Siaga Penuh Hadapi AS?
“Suhu geopolitik sedikit mereda setelah pertemuan World Economic Forum (WEF), di mana Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya. Namun yang lebih penting adalah ketahanan ekonomi Malaysia,” ujar Afzanizam.
Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Malaysia yang melampaui ekspektasi, serta keputusan Bank Negara Malaysia untuk mempertahankan suku bunga acuan (OPR) pada rapat Komite Kebijakan Moneter pertamanya tahun ini, sebagai cerminan optimisme bank sentral terhadap kondisi ekonomi.
“Hal ini memberi sinyal bahwa OPR kemungkinan akan dipertahankan sepanjang tahun,” katanya.
Afzanizam menambahkan, jika Federal Reserve AS memangkas suku bunga acuannya, selisih antara OPR dan Fed Fund Rate akan menyempit, sehingga minat terhadap ringgit berpotensi meningkat.
Ekonomi Malaysia tumbuh 4,9% pada 2025, melampaui proyeksi resmi sebesar 4%–4,8%. Sementara itu, Bank Negara pada Kamis lalu kembali menahan OPR dengan alasan prospek pertumbuhan yang positif.
Di pasar obligasi, surat utang pemerintah Malaysia juga tetap diminati, dengan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 0,3 basis poin menjadi 3,54%.
Penguatan ringgit juga bersifat luas terhadap berbagai mata uang utama dan regional, sekaligus meningkatkan daya beli warga Malaysia untuk perjalanan ke luar negeri.
Satu ringgit kini setara dengan sekitar 1,74 yuan China, naik 1,44% sejak awal tahun.
Nilai tukar euro berada di kisaran RM 4,70, dibandingkan RM 4,77 pada awal tahun.
Terhadap dolar Singapura, ringgit menguat sekitar 0,9% ke level tertinggi dalam empat tahun di RM 3,13, dari RM 3,16 di awal tahun.
Tonton: Trump Ancam Kanada dengan Tarif 100%, Jika Deal China?
Ringgit juga mencetak rekor terhadap yen Jepang, dengan satu ringgit setara sekitar 39,59 yen, naik dari 38,55 yen pada awal tahun.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) berada di level 98,43, jauh di bawah ambang 100 yang biasanya mencerminkan kekuatan dolar secara luas.
Ke depan, Innes memperkirakan pasangan dolar AS/ringgit akan bergerak pada tren “perlahan menurun” hingga akhir tahun, meski volatilitas masih akan terjadi.
“Namun secara gambaran besar, arah pasar masih mengarah pada pelemahan dolar secara bertahap, bukan penguatan kembali.
“Ketika investor mulai meninjau ulang eksposur dolar dan mencari mata uang yang didukung arus perdagangan serta aset riil, Malaysia berada di posisi yang tepat pada waktu yang tepat,” pungkasnya.













