kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45868,39   -1,11   -0.13%
  • EMAS947.000 1,07%
  • RD.SAHAM -0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.10%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Risiko pembekuan darah akibat Covid-19 disebut lebih tinggi dibanding vaksin tertentu


Jumat, 16 April 2021 / 14:40 WIB
Risiko pembekuan darah akibat Covid-19 disebut lebih tinggi dibanding vaksin tertentu
ILUSTRASI. Petugas kesehatan menunjukkan vaksin AstraZeneca di Mandiri University, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (26/3/2021).


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - LONDON. Peneliti Inggris baru-baru ini menilai bahwa risiko pembekuan darah di otak akibat Covid-19 lebih tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan vaksin seperti yang banyak dikabarkan belakangan.

Vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca beberapa waktu belakangan menjadi buah bibir karena dalam beberapa kasus menyebabkan pembekuan darah. Baru-baru ini, vaksin buatan Johnson & Johnson (J&J) juga diketahui menimbulkan efek serupa.

Pada hari Rabu (14/4), Amerika Serikat menghentikan vaksinasi menggunakan vaksin J&J sambil menunggu penelitian lebih lanjut terkait pembekuan darah. Di banyak negara Eropa, penggunaan vaksin AstraZeneca juga mulai ditangguhkan.

Baca Juga: Komisi UE sepakat tidak akan memperbarui kontrak vaksin AstraZeneca dan J&J

Maxime Taquet dari Oxford's Department of Psychiatry, memastikan bahwa risiko pembekuan darah akibat Covid-19 lebih tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan vaksin.

Dikutip dari Reuters, studi Taquet terhadap 500.000 pasien Covid-19 menemukan bahwa pembekuan darah terjadi pada tingkat 39 banding 1 juta. Jumlah itu lebih tinggi dari penelitian European Medicines Agency (EMA) terhadap vaksin AstraZeneca yang ada di angka 5 banding 1 juta.

Para peneliti mengatakan dalam studi pra-cetak bahwa risiko trombosis sinus vena serebral (CVST) adalah 8-10 kali lebih tinggi setelah seseorang terkena Covid-19.

"Risiko terkena CVST setelah Covid-19 tampaknya jauh lebih tinggi dan signifikan daripada setelah menerima vaksin Oxford-AstraZeneca," ungkap Taquet kepada Reuters.

Baca Juga: Sejumlah negara hentikan sementara vaksin Johnson & Johnson karena pembekuan darah

Studi terbaru ini didasarkan pada database kesehatan AS sehingga tidak memperoleh data baru tentang risiko pembekuan darah dari vaksin AstraZeneca secara langsung, karena vaksin tersebut tidak diluncurkan di sana.

Taquet menjelaskan bahwa tingkat kematian akibat CVST sekitar 20% baik itu terjadi setelah infeksi Covid-19 atau vaksinasi. Artinya, pembekuan darah memang sudah menjadi risiko utama sejak awal.

Saat ini tim peneliti dari Oxford University mengatakan, mereka sedang bekerja secara terpisah dari tim vaksin Oxford yang mengembangkan vaksin AstraZeneca demi memperoleh hasil yang lebih objektif.

Selanjutnya: Pasien sembuh dari Covid-19 berisiko alami penggumpalan darah, waspada!




TERBARU
Kontan Academy
Menagih Utang Itu Mudah Batch 5 Data Analysis & Visualization with Excel Batch 3

[X]
×