kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Saat Pasar Terancam Runtuh, Robert Kiyosaki Justru Bilang Ini Waktu Terbaik Jadi Kaya


Selasa, 06 Januari 2026 / 09:20 WIB
Saat Pasar Terancam Runtuh, Robert Kiyosaki Justru Bilang Ini Waktu Terbaik Jadi Kaya
ILUSTRASI. Peringatan Kiyosaki soal masa depan ekonomi global berangkat dari analisis jangka panjang. (Facebook/RobertKiyosaki)


Sumber: Money Wise | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, memang optimistis terhadap peluang besar meraih kekayaan. Namun, di saat yang sama, ia juga memperingatkan bahwa pasar properti sedang runtuh dan masa-masa sulit akan datang.

Sejauh ini, pasar keuangan memang bergejolak, tetapi tetap tangguh. Meski sempat mengalami fluktuasi tajam di awal tahun, pasar saham berhasil bangkit. Indeks acuan S&P 500 tercatat naik lebih dari 17% sejak awal tahun hingga akhir Desember.

Meski demikian, Kiyosaki menilai bahaya belum berlalu. Menurutnya, kehancuran pasar tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam unggahan terbarunya di platform X, ia menegaskan bahwa krisis besar membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terbentuk, bukan terjadi dalam semalam.

Menghadapi masa sulit, Kiyosaki kembali mengutip ajaran “Rich Dad”, sosok mentor yang menginspirasinya. Ia menekankan bahwa kekayaan sejati datang ketika seseorang mampu menghasilkan uang bahkan saat tidur. Menurutnya, waktu untuk membangun sumber pendapatan pasif itu sedang tiba.

Ia juga mendorong masyarakat untuk terus belajar, mengikuti seminar, dan menyimak pandangan orang-orang sukses agar mampu membaca peluang di tengah krisis.

Baca Juga: CEO Nvidia: Chip Generasi Terbaru Sudah Diproduksi Massal

Dari kejayaan ke kehancuran (Boom to Bust)

Melansir Money Wise, peringatan Kiyosaki soal masa depan ekonomi global berangkat dari analisis jangka panjang. Ia menyebut bahwa krisis besar yang sedang berlangsung saat ini berakar sejak 1913, ketika sistem moneter AS mulai dikuasai oleh Federal Reserve.

Jika krisis sebesar itu benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat menghancurkan bagi investor ritel. Sebagai gambaran, krisis perumahan dan kredit pada akhir 2000-an menggerus kekayaan rumah tangga AS sekitar US$ 16 triliun. Sementara pada aksi jual pasar saham 2022, peserta dana pensiun seperti 401(k) dan IRA diperkirakan kehilangan sekitar US$ 3 triliun.

Namun, menurut Kiyosaki, selalu ada pihak yang diuntungkan. Ia meyakini bahwa mereka yang memahami sejarah moneter akan menjadi pemenang, seiring naiknya harga emas, perak, serta aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, ketika sistem uang fiat yang ia sebut “palsu” runtuh.

Trio aset 

Optimisme Kiyosaki terhadap emas, perak, dan Bitcoin didasari oleh ketidakpercayaannya pada kondisi fiskal Amerika Serikat dan mata uang fiat. Ia menilai AS kini menjadi negara dengan utang terbesar dalam sejarah, sementara kepercayaan terhadap uang kertas terus melemah.

Ia pun melontarkan prediksi harga yang sangat agresif. Kiyosaki memperkirakan harga perak bisa menembus US$ 100 pada 2026, bahkan berpotensi mencapai US$ 200 per ons. Untuk emas, ia jauh lebih berani, dengan target harga mencapai US$ 27.000 per ons, mengacu pada pandangan rekannya Jim Rickards.

Tonton: Harga Emas Antam Melesat Hari Ini (6 Januari 2026)

Manfaatkan momentum logam mulia

Sepanjang tahun ini, logam mulia mencatat kinerja luar biasa. Harga perak melonjak lebih dari 160% pada 2025, menjadikannya aset dengan performa terbaik. Emas menyusul dengan kenaikan lebih dari 66%.

Dengan keyakinan bahwa reli ini akan berlanjut hingga 2026, Kiyosaki menyarankan investor jangka panjang untuk memanfaatkan pasar logam mulia, termasuk melalui instrumen investasi yang terhubung dengan dana pensiun.

Kesimpulan 

Robert Kiyosaki kembali mengingatkan bahwa gejolak ekonomi global belum berakhir dan krisis besar, menurut versinya, terbentuk secara perlahan selama puluhan tahun. Di tengah potensi guncangan pasar saham dan properti, ia melihat emas, perak, dan aset kripto sebagai pemenang utama ketika kepercayaan terhadap uang fiat melemah. Lonjakan tajam harga logam mulia sepanjang 2025 dianggapnya sebagai sinyal awal, sekaligus peluang bagi investor yang siap berpikir jangka panjang dan memanfaatkan krisis sebagai momentum akumulasi aset.

Selanjutnya: Harga Minyak Turun Selasa (6/1) Pagi: Brent ke US$61,62 dan WTI ke US$58,15

Menarik Dibaca: IHSG Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (6/1)




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×