kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Harga Minyak Turun Selasa (6/1) Pagi: Brent ke US$61,62 dan WTI ke US$58,15


Selasa, 06 Januari 2026 / 09:19 WIB
Harga Minyak Turun Selasa (6/1) Pagi: Brent ke US$61,62 dan WTI ke US$58,15
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Liz Hampton)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada Selasa (6/1/2026) seiring pelaku pasar mempertimbangkan potensi peningkatan produksi minyak mentah Venezuela setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Prospek tambahan pasokan ini memperkuat ekspektasi pasokan global yang melimpah di tengah permintaan yang masih lemah.

Melansir Reuters, harga Brent turun 0,2% ke level US$61,62 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,3% ke US$58,15 per barel pada pukul 01.03 GMT.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Wilayah Chugoku Jepang

Analis Marex Ed Meir menilai apabila sebagian dari strategi pemerintahan Presiden AS Donald Trump benar-benar terealisasi, produksi minyak Venezuela berpotensi meningkat signifikan.

“Jika produksi minyak Venezuela naik, itu akan menambah tekanan pada pasar yang sebenarnya sudah kelebihan pasokan,” ujar Meir.

Survei Reuters terhadap pelaku pasar pada Desember lalu menunjukkan harga minyak memang sudah diperkirakan berada di bawah tekanan sepanjang 2026, seiring pertumbuhan pasokan global yang melampaui permintaan.

Tekanan harga kini semakin besar setelah penangkapan Maduro pada Sabtu lalu meningkatkan peluang dicabutnya embargo AS terhadap minyak Venezuela, yang pada akhirnya membuka jalan bagi peningkatan produksi.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi 10 Tahun Jepang Turun Jelang Lelang

Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintahan Trump akan bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak AS pekan ini untuk membahas upaya meningkatkan produksi minyak Venezuela.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak sempat menguat lebih dari 1% setelah pasar mencerna kabar penangkapan Maduro serta pernyataan AS terkait langkah-langkahnya terhadap Venezuela. Namun sentimen itu berbalik setelah fokus pasar kembali pada isu pasokan.

Venezuela merupakan anggota pendiri OPEC dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel. Meski demikian, sektor minyak negara tersebut mengalami penurunan tajam selama bertahun-tahun akibat kurangnya investasi dan sanksi AS.

Rata-rata produksi minyak Venezuela pada tahun lalu tercatat sekitar 1,1 juta barel per hari.

Para analis memperkirakan produksi tersebut bisa meningkat hingga 500.000 barel per hari dalam dua tahun ke depan, apabila stabilitas politik terjaga dan investasi dari AS masuk.

Baca Juga: Hyundai Siap Gunakan Robot Humanoid di Pabrik AS Mulai 2028

Dalam catatan kepada klien, Citi menyebut dorongan pemerintahan AS untuk meningkatkan pasokan minyak Venezuela akan memberikan tekanan bearish bagi pasar minyak dalam jangka panjang.

Namun Citi menilai OPEC+, yang dipimpin Arab Saudi, kemungkinan akan merespons kenaikan persediaan global dengan memangkas produksi demi menjaga harga Brent di kisaran US$55–60 per barel dalam jangka menengah.

Pada pertemuan singkat pada Minggu lalu, OPEC dan sekutunya (OPEC+) sepakat untuk mempertahankan level produksi saat ini.

Selanjutnya: Kadin Indonesia Memetakan Risiko dan Peluang dari Eskalasi Konflik AS - Venezuela

Menarik Dibaca: IHSG Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (6/1)


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×