Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham Lululemon Athletica merosot sekitar 12% pada perdagangan Kamis (23/4/2026), setelah penunjukan CEO baru dari Nike gagal meyakinkan pelaku pasar.
Melansir Reuters, Lululemon menunjuk Heidi O'Neill sebagai CEO baru, mengakhiri proses pencarian panjang yang juga diwarnai tekanan dari investor aktivis serta pendiri perusahaan, Chip Wilson.
O'Neill, yang sebelumnya menjabat sebagai President of Consumer, Product and Brand di Nike, akan mulai memimpin pada September mendatang.
Baca Juga: Freeport-McMoRan Cetak Laba Lebih Tinggi dari Estimasi Berkat Lonjakan Harga Tembaga
Ia ditugaskan untuk membalikkan penurunan pangsa pasar serta menyegarkan citra merek Lululemon.
Namun, pasar merespons negatif. Analis menilai rekam jejak O'Neill di Nike tidak cukup meyakinkan, mengingat perusahaan tersebut tengah menghadapi berbagai tantangan serupa, termasuk perlambatan penjualan dan tekanan di pasar China.
“Pasar kemungkinan tidak akan merespons positif penunjukan ini, mengingat masa jabatan panjang O'Neill di Nike bertepatan dengan munculnya sejumlah tantangan yang kini juga dihadapi Lululemon,” tulis analis BTIG.
Dinilai Bukan Sosok “Turnaround CEO”
Sejumlah analis juga menilai Lululemon membutuhkan sosok CEO dengan pengalaman restrukturisasi (turnaround), bukan sekadar fokus pada pertumbuhan.
Baca Juga: Kendalikan Inflasi, Bank Sentral Filipina Kerek Naik Suku Bunga Jadi 4,5%
Nama lain yang sebelumnya diusulkan investor aktivis Elliott Investment Management adalah Jane Nielsen, mantan CFO Ralph Lauren dan Coach, yang dinilai lebih berpengalaman dalam transformasi bisnis menuju margin tinggi.
Elliott, yang memiliki sekitar US$1 miliar saham di Lululemon, mendorong penunjukan Nielsen. Tekanan juga datang dari Wilson, yang tengah melakukan proxy fight untuk menempatkan kandidatnya di dewan direksi.
Tekanan Bisnis Masih Berlanjut
Kinerja Lululemon sendiri tengah tertekan. Perusahaan menghadapi penarikan produk (recall) untuk beberapa lini legging premium serta kesulitan menjaga keseimbangan inventori.
Baca Juga: OECD Nilai Risiko Stagflasi Akibat Konflik Iran Masih Terbatas
Persaingan juga semakin ketat dengan munculnya merek baru seperti Alo Yoga dan Vuori di pasar Amerika Serikat.
Dalam 12 bulan terakhir, saham Lululemon telah anjlok sekitar 38%, dengan kapitalisasi pasar menyusut menjadi sekitar US$18,8 miliar.
Analis memperkirakan tekanan terhadap saham masih akan berlanjut, mengingat O'Neill baru akan resmi menjabat pada September dan sejumlah isu fundamental perusahaan belum terselesaikan.













