Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Anomali terjadi pada pergerakan saham-saham telekomunikasi (telko) dunia. Di saat penggunaan internet melonjak di tengah kebijakan lockdown yang dilakukan di seluruh dunia guna menekan penyebaran virus corona (Covid-19), saham-saham telko justru melempem.
Padahal dengan kondisi yang ada sekarang dimana penjualan online untuk beragam bisnis seperti gim dan pengiriman makan yang melesat seharusnya justru memberi dampak positif terhadap perusahaan telko ini.
Di kawasan Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, kombinasi antara biaya tinggi, utang dan fluktuasi pasar telah menekan bisnis data perusahaan telekomunikasi.
Kasper Elmgreen, Kepala Ekuitas Amundi Asset Management, perusahaan fund manager terbesar di Eropa memandang, kondisi tersebut cukup mengejutkan. "Sektor pertahanan tradisional telah bermain defensif, tetapi telekomunikasi belum benar-benar defensif," ujarnya dikutip Reuters, Selasa (14/4).
Baca Juga: Bulog sebut impor daging kerbau dari India terhambat karena sedang lockdown
Secara global, indeks layanan telekomunikasi MSCI tercatat turun 13%. Penurunan tersebut lebih tinggi dibanding sektor lainnya seperti indeks MSCI untuk layanan kesehatan hanya turun 6%, indeks teknologi turun 8% dan indeks konsumer turun 10%.
Data tersebut menggambarkan adanya dinamika sulit yang dihadapi operator telekomunikasi bahkan disaat layanannya semakin dibutuhkan belakangan ini.
Jutaan orang di seluruh dunia terpaksa harus berdiam di rumah dan melakukan pekerjaan dari rumah untuk meredam penularan Covid-19 yang telah menyebabkan 113.000 kematian. Kondisi ini memang mendorong bisnis dan hiburan online.
Namun, perusahaan telekomunikasi terkendala dalam biaya untuk melayani melonjaknya permintaan layanan data tersebut. Sebab dengan struktur penetapan harga yang tidak berubah, tidak ada cara cepat bagi perusahaan untuk melakukan monetisasi investasi.
Baca Juga: Laju Covid-19 Diredam, Jerman Mencari Exit Strategy untuk Pelonggaran Lockdown
Sementara di saat yang sama, pendapatan untuk layanan roaming mengering karena semakin sedikit orang bepergian saat ini dan perusahaan telekomunikasi bersiap menghadapi penurunan kontrak baru di tengah gelombang pengangguran.
"Karena kesepakatan tarif tetap, kami hampir tidak mendapatkan pendapatan tambahan jika orang menghabiskan lebih banyak waktu berselancar atau berbicara di telepon," kata Ralph Dommermuth, Kepala eksekutif perusahaan telekomunikasi Jerman 1&1 Drillisch AG pada Reuters.
Baca Juga: Jutaan pengangguran di China tak bisa mengakses jaminan pengaman sosial
Perusahaan ini juga belum bisa menghitung apakah dengan lebih banyak waktu yang dihabiskan masyarakat di rumah akan mengkompensasi kerugian pendapatan yang akan timbul karena banyak perusahaan atau individu swasta harus menunda memperbarui kontrak atau tidak dapat membayar tagihan.
Prospek kinerja tersebutlah yang mendorong penurunan saham perusahaan telekomunikasi. Investor khawatir dividen akan semakin suram setalah berada di bawah tekanan selama bertahun-tahun.
Harga saham AT&T Inc tercatat telah anjlok 21% sepanjang tahun ini, Telefonica SA turun 30%, dan saham MTN Group Ltd bahkan merosot jauh melampaui perkiraan. Vodafone Group PLC, operator seluler terbesar kedua di dunia, mengatakan lalu lintas data telah melonjak 50% tetapi stok mengalami penurunan 23%.
Tariq Dennison, Managing Director GFM Asset Management di Hong Kong mengatakan, perusahaan telekomunikasi tidak hanya harus menanggung biaya capex untuk ekpansi jariang 5G tetapi juga harus menghadapi pembayaran utang. "Jadi, kapan pun arus kas mereka jatuh, prioritas pertama mereka adalah para pemegang obligasi itu." ujarnya.
Baca Juga: Kasus corona melambat, hari ini Spanyol mulai melonggarkan penguncian













