Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Khomarul Hidayat
Sementara di saat yang sama, pendapatan untuk layanan roaming mengering karena semakin sedikit orang bepergian saat ini dan perusahaan telekomunikasi bersiap menghadapi penurunan kontrak baru di tengah gelombang pengangguran.
"Karena kesepakatan tarif tetap, kami hampir tidak mendapatkan pendapatan tambahan jika orang menghabiskan lebih banyak waktu berselancar atau berbicara di telepon," kata Ralph Dommermuth, Kepala eksekutif perusahaan telekomunikasi Jerman 1&1 Drillisch AG pada Reuters.
Baca Juga: Jutaan pengangguran di China tak bisa mengakses jaminan pengaman sosial
Perusahaan ini juga belum bisa menghitung apakah dengan lebih banyak waktu yang dihabiskan masyarakat di rumah akan mengkompensasi kerugian pendapatan yang akan timbul karena banyak perusahaan atau individu swasta harus menunda memperbarui kontrak atau tidak dapat membayar tagihan.
Prospek kinerja tersebutlah yang mendorong penurunan saham perusahaan telekomunikasi. Investor khawatir dividen akan semakin suram setalah berada di bawah tekanan selama bertahun-tahun.
Harga saham AT&T Inc tercatat telah anjlok 21% sepanjang tahun ini, Telefonica SA turun 30%, dan saham MTN Group Ltd bahkan merosot jauh melampaui perkiraan. Vodafone Group PLC, operator seluler terbesar kedua di dunia, mengatakan lalu lintas data telah melonjak 50% tetapi stok mengalami penurunan 23%.
Tariq Dennison, Managing Director GFM Asset Management di Hong Kong mengatakan, perusahaan telekomunikasi tidak hanya harus menanggung biaya capex untuk ekpansi jariang 5G tetapi juga harus menghadapi pembayaran utang. "Jadi, kapan pun arus kas mereka jatuh, prioritas pertama mereka adalah para pemegang obligasi itu." ujarnya.
Baca Juga: Kasus corona melambat, hari ini Spanyol mulai melonggarkan penguncian













