kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   0,00   0,00%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Sempat Menyentuh Rekor Tertinggi 24 Tahun, Yield US Treasury Akhirnya Melandai


Jumat, 02 Oktober 2026 / 05:58 WIB
Sempat Menyentuh Rekor Tertinggi 24 Tahun, Yield US Treasury Akhirnya Melandai
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Evgenia Novozhenina)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Gelombang aksi beli investor membalikkan arah pelemahan pasar obligasi pemerintah AS (US Treasury) pada perdagangan Kamis (1/10/2026).

Aksi borong ini memberikan kelegaan bagi para pemegang obligasi setelah yield tenor jangka panjang sempat melonjak ke level tertinggi dalam 24 tahun terakhir menyusul rilis data ekonomi yang panas.

Pembalikan arah (reversal) ini membuka perdagangan Oktober dengan nada optimistis, setelah pasar obligasi baru saja melewati lonjakan yield tenor 10 tahun terburuk dalam satu kuartal sejak 1994 tahun yang dikenal di Wall Street sebagai tragedi Great Bond Massacre.

Baca Juga: Dolar AS Tembus Rekor 17 Bulan Usai Pasar Obligasi Global Meredup

Sebelumnya pada Kamis pagi waktu setempat, yield US Treasury tenor 10 dan 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak musim semi 2002.

Pemicunya adalah laporan Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan aktivitas manufaktur AS bergerak stagnan di bulan September, tetapi disertai lonjakan harga bahan baku akibat kuatnya permintaan. Indikasi ini mempertegas tekanan inflasi yang masih persisten.

Aksi jual awal di pasar obligasi juga terdorong oleh prospek inflasi yang memburuk usai harga minyak mentah Brent melonjak akibat keputusan China menangguhkan ekspor produk minyak.

Di saat bersamaan, data klaim pengangguran mingguan AS mencatatkan penurunan, menandakan pasar tenaga kerja masih terlampau solid.

Namun, dinamika pasar berbalik tajam menjadi aksi beli massif selepas pukul 10.00 EDT (14.00 GMT). Para trader dan analis menilai lonjakan yield yang agresif selama enam pekan terakhir telah membuat profil risiko dan imbal hasil (risk/reward) dari utang pemerintah AS menjadi sangat menarik.

Scott Welch, Chief Investment Officer Certuity di Potomac, Maryland, menilai pembalikan ini didorong oleh aksi investor profesional yang masuk untuk mengambil posisi jangka panjang guna menangkap total return.

Meski demikian, ia mengingatkan yield masih berpotensi melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Melonjak 4%, Brent Tembus US$ 102 per Barel

Senada, Oliver Pursche, Senior Vice President Wealthspire Advisors, menyebut aksi lepas obligasi global mungkin sudah berlebihan (overdone).

"Beberapa klien mulai merealisasikan kerugian (cut loss) pada portofolio obligasi korporasi mereka yang tertekan dalam enam bulan terakhir, lalu memindahkan dananya (redeploying) ke US Treasury dan obligasi daerah (municipal bonds)," jelas Pursche.

Kenaikan Tajam Posisi Obligasi Jangka Pendek

Aksi borong paling dominan terjadi pada US Treasury tenor 2 tahun, di mana penurunan yield-nya mencatatkan rekor harian terbesar sejak Agustus 2025.

Yield tenor 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed ditutup merosot 8,94 basis poin ke level 4,798%.

Penurunan yield tenor 2 tahun kian dalam usai Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyatakan bahwa meski dirinya mendukung kenaikan suku bunga pada September lalu, ia tidak melihat adanya urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Sementara itu, yield US Treasury acuan tenor 10 tahun melandai 5,02 basis poin ke posisi 5,243%, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak April 2002 di 5,3445%. Yield tenor 30 tahun juga turun 3,21 basis poin ke 5,6069% dari posisi puncaknya di 5,6935%.

Garrett Melson, Portfolio Strategist Natixis Investment Managers Solutions, menilai pergerakan yield belakangan ini mulai terlepas (divorced) dari indikator fundamental ekonomi.

Selain itu, pemicu pembalikan harga ini juga didorong oleh posisi pasar yang sudah sangat padat (crowded).

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$ 4.165 per Ons Troi Usai Data Inflasi AS Melandai

Kurva Yield Melandai Tipis

Selisih (spread) antara yield tenor 2 dan 10 tahun yang menjadi indikator ekspektasi ekonomi berada di level positif 44,3 basis poin, setelah sempat berada di kurva tercuramnya sejak 24 Agustus.

Kini pelaku pasar bersiap menantikan laporan vital tenaga kerja AS (nonfarm payrolls) periode September pada Jumat, sembari mencermati sinyal dari para pejabat bank sentral.

Spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober telah menyusut dipicu pernyataan bernada dovish dari Presiden The Fed New York John Williams.

Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyatakan kepada Reuters bahwa meski kenaikan suku bunga lanjutan mungkin masih dibutuhkan hingga 2027 untuk meredam ekonomi, ia belum yakin apakah langkah tersebut perlu diambil akhir bulan ini.

Di sisi lain, Presiden The Fed Kansas City Jeff Schmid menegaskan tantangan utama bank sentral saat ini adalah memilah sejauh mana dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi jangka panjang.

Baca Juga: Dolar AS Kian Perkasa Terdongkrak Aksi Jual Obligasi Global




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×